Timesheet Karyawan: Contoh, Rumus Excel & Cara Hitung Billable

Timesheet Karyawan: Contoh, Rumus Excel & Cara Hitung Billable

Timesheet Karyawan: Contoh, Rumus Excel & Cara Hitung Billable

Setiap akhir bulan, manajer proyek sering bertanya: berapa jam yang benar-benar dipakai tim untuk klien A dan berapa yang habis untuk pekerjaan internal? Kalau jawabannya hanya perkiraan, tagihan ke klien pun ikut meleset dan ada jam kerja yang akhirnya tidak tertagih.

File Excel tersebar di banyak orang, lembur dicatat belakangan, dan sulit melacak siapa yang mengubah data. Timesheet karyawan membantu mencatat penggunaan waktu secara lebih rapi sehingga perusahaan tahu ke mana jam kerja benar-benar digunakan.

Key Takeaways

Timesheet karyawan adalah catatan jam kerja yang dirinci per tugas, proyek, atau klien, sehingga setiap jam yang dibayar punya bukti pekerjaan.

Memisahkan jam billable dan non-billable lalu menghitung utilization rate membuat timesheet jadi alat ukur produktivitas, bukan sekadar administrasi.

Begitu jam kerja harus di-approve, diaudit, lalu mengalir ke payroll dan invoice klien, rekap Excel tidak lagi cukup dan perlu sistem terintegrasi.

Apa Itu Timesheet Karyawan?

Timesheet adalah catatan realisasi jam kerja karyawan berdasarkan tugas atau proyek dalam satu periode. Berbeda dari absensi yang hanya mencatat jam masuk dan pulang, timesheet menunjukkan waktu digunakan untuk pekerjaan apa, berapa lama, dan untuk proyek siapa.

Secara regulasi, jam kerja standar di Indonesia adalah 40 jam per minggu, yaitu 7 jam per hari untuk 6 hari kerja atau 8 jam untuk 5 hari kerja sesuai Pasal 77 ayat (2) UU 13/2003 jo UU 6/2023. Penerapannya perlu disesuaikan dengan aturan jam kerja untuk karyawan yang berlaku.

Perbedaan Timesheet dan Absensi

Keduanya menjawab dua pertanyaan berbeda dan sering kali dibutuhkan bersamaan dalam satu periode kerja. Pencatatan kehadiran harian umumnya sudah ditangani lewat aplikasi absensi karyawan, sementara rincian jam per pekerjaan tetap membutuhkan timesheet.

Aspek Timesheet Absensi
Objek catat Jam kerja per tugas atau proyek Kehadiran (masuk dan pulang)
Output Total jam per tugas dan biaya Data hadir atau tidak hadir
Pengguna utama Manajer proyek, tim finance HR dan admin
Frekuensi Per tugas atau harian Per hari

Fungsi dan Manfaat Timesheet

Lalu untuk apa sebenarnya timesheet dibuat? Manfaatnya terasa paling kuat di perusahaan jasa atau perusahaan yang menangani banyak proyek sekaligus dengan tim yang sama.

1. Menghitung biaya proyek dengan akurat

Setiap jam tercatat per tugas, sehingga biaya tenaga kerja per proyek bisa dihitung secara presisi. Manajer proyek dan tim finance jadi punya dasar angka yang jelas, bukan perkiraan.

2. Menjadi dasar penagihan ke klien

Jam billable yang tercatat rapi menjadi bukti sah untuk menagih klien. Tim penagihan tidak perlu berdebat soal berapa jam yang benar-benar dikerjakan.

3. Membaca tingkat keterisian tim

Dari timesheet, manajer bisa melihat siapa yang kelebihan beban dan siapa yang banyak jam menganggur. Data ini membantu pembagian kerja yang lebih seimbang.

4. Menjadi dasar payroll dan evaluasi kinerja

Jam kerja normal dan lembur yang tercatat menjadi bahan perhitungan gaji. HR juga bisa memakainya sebagai data evaluasi produktivitas.

Jenis-Jenis Timesheet

Jenis yang tepat bergantung pada seberapa sering jam perlu dicatat dan untuk kepentingan apa catatan itu dipakai nantinya. Pada tim dengan shift bergilir, pemilihan jenisnya juga mengikuti pola sistem kerja roster yang dipakai agar jam tercatat sesuai giliran masing-masing.

1. Timesheet harian

Dicatat setiap hari dengan rincian per tugas. Cocok untuk tim proyek yang perlu memantau alokasi jam harian secara ketat.

2. Timesheet mingguan

Direkap per minggu dan biasanya menggabungkan beberapa hari kerja sekaligus. Cocok untuk pekerjaan dengan ritme mingguan yang stabil.

3. Timesheet bulanan

Direkap per bulan, lebih ringkas tetapi kurang detail. Cocok untuk keperluan payroll dan laporan bulanan.

4. Timesheet per proyek (billable)

Mencatat jam khusus untuk satu proyek atau klien, lengkap dengan penanda jam yang bisa ditagih. Jenis ini paling penting bagi perusahaan jasa karena langsung menjadi dasar invoice.

Komponen dan Contoh Tabel Timesheet

Apa pun jenisnya, sebuah timesheet yang baik selalu punya kolom inti yang sama. Kolom-kolom inilah yang menentukan apakah jam kerja bisa dihitung dan ditelusuri kembali dengan benar.

Bedanya dengan time schedule proyek di Excel terletak pada arah datanya, jadwal proyek menyusun rencana kerja, sedangkan timesheet mencatat jam yang sudah benar-benar terpakai.Berikut contoh timesheet harian untuk satu karyawan:

Tanggal Masuk Keluar Istirahat Total Jam Proyek / Tugas Kategori Lembur
2026-09-01 08.00 17.00 1 jam 8 jam Implementasi modul akuntansi PT Maju Billable 0
2026-09-02 08.00 18.00 1 jam 9 jam Training user PT Maju Billable 1 jam
2026-09-03 08.00 17.00 1 jam 8 jam Rapat internal Non-billable 0

Sementara itu, untuk kebutuhan penagihan, rangkum jam per proyek seperti tabel berikut:

Kode Proyek Nama Proyek Jam Billable Jam Non-billable Total Jam
PRJ-001 Implementasi ERP PT Maju 120 18 138
PRJ-002 Konsultasi proses PT Sejahtera 64 10 74

Cara Membuat Timesheet di Excel

Excel masih menjadi alat paling umum untuk membuat timesheet karena fleksibel dan tanpa biaya tambahan. Berikut langkah dasarnya, lengkap dengan rumus yang bisa langsung Anda pakai di file sendiri.

Rumus di bawah ini menutupi kebutuhan dasar pencatatan jam, mulai dari menghitung total hingga menghitung tingkat keterisian. Sesuaikan nama sel dengan posisi kolom pada tabel Anda.

No Rumus Fungsi
1 =(C2-B2)*24-D2
Menghitung total jam harian setelah dikurangi istirahat
2 =(C2-B2)*24
Mengubah selisih jam masuk dan keluar menjadi angka desimal
3 =SUM(E2:E6)
Menjumlahkan total jam dalam satu minggu
4 =MAX(0,E2-8)
Mendeteksi jam lembur di hari kerja (di atas 8 jam)
5 =E2
Menghitung seluruh jam di hari libur sebagai lembur
6 =SUM(H2:H6)
Menjumlahkan total jam lembur mingguan
7 =IF(G2="Billable",E2,0)
Menandai jam yang masuk kategori billable
8 =IF(G2="Non-billable",E2,0)
Menandai jam yang masuk kategori non-billable
9 =SUMIF(G2:G10,"Billable",E2:E10)
Menjumlahkan seluruh jam billable
10 =SUMIF(G2:G10,"Non-billable",E2:E10)
Menjumlahkan seluruh jam non-billable
11 =SUMIF(G2:G10,"Billable",E2:E10)/SUM(E2:E10)
Menghitung utilization rate atau tingkat keterisian
12 =IF(E2<0,"Cek jam",E2)
Menandai input jam yang keliru atau negatif
13 =AVERAGE(E2:E6)
Menghitung rata-rata jam kerja per hari

Rumus-rumus ini bekerja baik untuk tim kecil. Masalahnya muncul saat tim membesar dan banyak orang mengisi file berbeda, sehingga rekapnya rawan salah. Total ERP menghitung total jam, lembur, dan kategori billable secara otomatis di satu tempat.

Billable vs Non-Billable dan Utilization Rate

Di perusahaan jasa, tidak semua jam kerja bernilai sama di mata pendapatan. Ada jam yang bisa ditagih ke klien dan ada yang tidak, sehingga memisahkan keduanya menjadi kunci profitabilitas.

1. Jam billable dan non-billable

Jam billable adalah jam yang bisa ditagih ke klien karena dikerjakan untuk proyek klien. Jam non-billable seperti rapat internal, pelatihan, atau administrasi tidak bisa ditagih dan menjadi beban biaya.

2. Cara menghitung utilization rate

Utilization rate dihitung dengan membagi jam billable dengan total jam tersedia. Contohnya, konsultan bekerja 40 jam seminggu dan 28 jam di antaranya billable, maka utilization-nya 70%.

3. Benchmark utilization yang sehat

Benchmark global perusahaan jasa profesional menunjukkan utilization rata-rata 66,4% pada 2025, turun dari 68,9% (2024) dan 73,2% (2021), sebagaimana tercatat dalam Deltek Professional Services Benchmarks.

Alur Approval Timesheet dan Audit Trail

Timesheet yang diisi karyawan perlu diperiksa dan disetujui atasan sebelum digunakan untuk menghitung upah atau menagih klien. Proses ini berkaitan dengan Pasal 28 PP 35/2021 tentang daftar kerja lembur dan Pasal 26 ayat (1).

Setelah disetujui, perubahan timesheet perlu tercatat dalam audit trail. Catatan ini merekam siapa yang mengubah, waktu perubahan, nilai sebelum dan sesudah, alasan koreksi, serta pihak yang menyetujui sebagai bukti saat terjadi selisih upah atau tagihan klien.

Tahap Pelaku Yang dilakukan
1. Pengisian Karyawan Mencatat tanggal, jam masuk dan keluar, istirahat, proyek, serta jam lembur
2. Pemeriksaan Atasan atau manajer proyek Mengecek kewajaran jam dan batas lembur, lalu menyetujui, menolak, atau meminta revisi
3. Revisi Karyawan Memperbaiki baris yang ditolak beserta alasannya, lalu mengirim ulang
4. Pengesahan HR atau payroll Mengunci periode dan menyiapkan data upah serta lembur
5. Pemakaian Finance dan tim proyek Menarik jam billable ke invoice klien dan jam non-billable ke biaya proyek

Optimalkan Pengelolaan Timesheet dengan Sistem Terintegrasi

aplikasi hrd total

Setelah semua jam tercatat dan disetujui, langkah berikutnya adalah memastikan data mengalir otomatis ke payroll dan penagihan. Di sinilah sistem HRM Total memberi nilai lebih karena satu data timesheet dapat menggerakkan dua alur uang sekaligus.

Beberapa kemampuan utama sistem timesheet terintegrasi Total ERP:

  • Pencatatan jam kerja per proyek dan per tugas dengan penanda billable otomatis
  • Perhitungan total jam, istirahat, dan lembur tanpa rumus manual
  • Alur approval bertingkat lengkap dengan audit trail setiap perubahan
  • Dashboard utilization rate per karyawan dan per proyek secara real-time
  • Integrasi langsung ke payroll dan invoice tanpa input ulang data

Dengan rangkaian fitur tersebut, tim finance tidak perlu lagi menyalin angka antar file sebelum menutup periode. Untuk membandingkan sistem dengan cakupan serupa, lihat pilihan workforce management software berdasarkan fitur timesheet, approval, dan integrasi payroll.

Kesimpulan

Timesheet karyawan bukan sekadar catatan kehadiran, melainkan dasar untuk menghitung biaya proyek, upah lembur, dan tagihan klien. Selama jamnya dicatat rapi dan melewati persetujuan, perusahaan punya bukti kuat untuk setiap rupiah yang ditagih maupun dibayarkan.

Excel masih memadai untuk tim kecil, tetapi mulai terbatas saat tim membesar, proyek berjalan paralel, dan data jam harus masuk ke payroll tanpa rekap manual. Jam lembur juga perlu dihitung menjadi nominal sesuai cara menghitung upah lembur karyawan.

FAQ tentang Timesheet Karyawan

Tidak selalu, tetapi persetujuan atas jam kerja sebaiknya tetap terekam dalam bentuk tertulis atau digital. Khusus lembur, Pasal 28 ayat (1) PP 35/2021 mensyaratkan ada perintah dari pengusaha dan persetujuan tertulis atau melalui media digital dari karyawan, jadi tanda tangan basah dan tombol approve di sistem sama-sama sah.
Isian susulan tetap diperbolehkan selama periode timesheet belum dikunci dan alasan koreksinya ditulis jelas. Tetapkan juga batas waktu pengisian, misalnya maksimal tiga hari setelah tanggal kerja, supaya datanya masih sempat masuk ke payroll periode yang sama.
Selisih seperti ini wajar karena keduanya memang mencatat hal yang berbeda, jadi yang perlu dicari adalah baris tugas yang belum terisi atau terisi dua kali. Penyebab terseringnya karyawan pulang tepat waktu tetapi pekerjaannya belum dicatat, sehingga jam di timesheet lebih kecil daripada jam di mesin kehadiran.
Bisa, selama aplikasi yang dipakai mengirim datanya ke satu sistem yang sama dengan karyawan kantor. Yang perlu dihindari adalah pencatatan lewat pesan singkat atau file terpisah, karena rekapnya harus disalin manual dan rawan ada baris yang terlewat.
Nathalie Aurelia

Senior Technical Writer

Nathalie Aurelia berfokus pada penulisan konten HRM yang dekat dengan kebutuhan operasional organisasi. Dengan pengalaman sekitar 5 tahun, topik yang dibahas meliputi manajemen karyawan, payroll, absensi, rekrutmen, dan pengelolaan kompetensi. Tulisan disusun untuk membantu pembaca menyusun proses HR yang lebih tertib dan mudah dieksekusi.

Elvina adalah Senior HR Manager berpengalaman dengan keahlian mendalam dalam manajemen sumber daya manusia selama 10 tahun. Ia meraih gelar MBA dari Universitas Indonesia dan Bachelor of Psychology dari Universitas Padjadjaran. Sebagai pemegang sertifikasi internasional SHRM-SCP, Elvina memiliki kapasitas strategis untuk mengembangkan talenta, membangun budaya kerja yang sehat, serta memastikan praktik HR perusahaan selaras dengan standar global.

Total ERP mengikuti standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber primer seperti regulasi, panduan industri, dan publikasi tepercaya agar konten tetap akurat dan relevan.