Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit ut aliquam, purus sit

Amortisasi: Pengertian, Manfaat, dan Cara Menghitungnya

Picture of Ginta Anathia
amortisasi

Masalah dalam penghitungan nilai aset sering kali terjadi karena aset memiliki umur ekonomis yang terbatas dan mengalami depresiasi seiring waktu. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena masalah tersebut dapat diatasi dengan amortisasi.

Bagaimana caranya? Simak artikel berikut ini!

Apa Itu Amortisasi?

Amortisasi adalah suatu metode dalam bidang akuntansi yang berfungsi untuk mengurangi nilai biaya atau nilai aktiva dengan umur manfaat terbatas secara bertahap.

Metode ini kita terapkan dalam konteks keuangan, akuntansi, dan perpajakan untuk beberapa tujuan yang berbeda.

Pertama, dalam pengertian yang lebih umum, amortisasi mengacu pada proses pelunasan utang atau biaya secara bertahap selama periode tertentu.

Misalnya, ketika seseorang meminjam uang untuk membeli mobil atau rumah, mereka akan membayar cicilan bulanan yang mencakup pokok pinjaman dan bunga hingga pinjaman tersebut terlunasi pada tanggal yang telah ditentukan.

Dalam hal ini, amortisasi membantu mengatur pembayaran utang agar terjadi secara teratur dan dapat kita lunasi dalam jangka waktu tertentu.

Kedua, dalam konteks aset tidak berwujud, seperti paten, lisensi, atau hak cipta, amortisasi mengacu pada alokasi berkala nilai aset tersebut ke pendapatan perusahaan selama periode waktu tertentu.

Nilai aset tidak berwujud ini akan dikurangi dari neraca secara bertahap sesuai dengan umur ekonomisnya.

Metode perhitungan amortisasi mencakup pembayaran cicilan yang meliputi pokok pinjaman dan bunga yang harus peminjam bayar.

Selain itu, istilah “dana amortisasi” merujuk pada upaya perusahaan untuk menghimpun dana atau kas secara berkala guna membayar beban amortisasi saat ini.

Hal ini membantu perusahaan menghadapi tagihan amortisasi secara tepat waktu.

Amortisasi memiliki peran penting dalam bidang keuangan karena dapat mengurangi penghasilan kena pajak dan membantu investor memahami pendapatan operasional yang sebenarnya.

Namun, perlu kita ingat bahwa amortisasi merupakan beban non-kas.

Jadi, biasanya tidak dicantumkan dalam laporan arus kas atau ukuran laba tertentu.

Dalam praktik bisnis, sebaiknya para pengusaha memisahkan keuangan pribadi dan bisnis untuk mengelola keuangan bisnis dengan lebih baik dan memantau kesehatan keuangan perusahaan secara efektif.

Dengan pemisahan yang jelas, pengaturan dan pemantauan keuangan perusahaan dapat Anda lakukan dengan lebih terorganisir dan akurat.

Contoh Amortisasi

amortisasi

Salah satu contoh yang relevan dari amortisasi adalah penggunaannya dalam akuntansi untuk mengalokasikan biaya aktiva tidak berwujud seperti hak paten atau merek dagang.

Misalnya, ada perusahaan yang telah memperoleh hak paten dengan biaya total sebesar Rp50.000.000 dan hak paten tersebut memiliki umur manfaat selama 10 tahun.

Dengan menerapkan metode amortisasi ini, perusahaan tersebut dapat mengurangi nilai hak paten tersebut sebesar Rp5.000.000 untuk setiap tahunnya dalam periode 10 tahun.

Melalui cara ini, biaya hak paten yang signifikan dapat kita distribusikan secara adil ke dalam laporan keuangan perusahaan selama masa manfaatnya.

Selain itu, amortisasi juga berlaku pada pinjaman atau utang perusahaan.

Contohnya, ada perusahaan yang meminjam sejumlah Rp100.000.000 dengan bunga 5% per tahun dan jangka waktu pinjaman 5 tahun.

Dalam hal ini, perusahaan dapat menggunakan metode amortisasi untuk membayar pinjaman tersebut dengan jumlah tetap setiap bulan atau tahunnya.

Dengan begitu, pada akhir periode 5 tahun tersebut, pinjaman akan sudah terlunasi sepenuhnya.

Di dalam kedua contoh ini, amortisasi memainkan peran yang penting dalam menyediakan gambaran yang lebih akurat mengenai nilai dan kinerja keuangan perusahaan.

Selain itu dengan metode ini, Anda dapat menghindari beban biaya atau utang yang berlebihan dalam laporan keuangan Anda.

Amortisasi vs Depresiasi

Dalam akuntansi secara keseluruhan, terdapat dua istilah yang berkaitan dengan metode pengurangan nilai aset.

Dua istilah tersebut yang memegang peran penting dalam mengukur kondisi keuangan perusahaan adalah amortisasi dan depresiasi.

Meskipun kedua istilah ini berkaitan, ada perbedaan antara amortisasi dan depresiasi.

Depresiasi sendiri adalah proses mengalokasikan biaya penyusutan dari aset tetap yang memiliki bentuk fisik. Contohnya kendaraan bermotor.

Di sisi lain, amortisasi berkaitan dengan alokasi biaya dari aset tak berwujud dalam periode akuntansi.

Jadi, perusahaan menggunakan metode alokasi untuk mengamortisasi aset tak berwujud.

Perbedaan lainnya antara depresiasi dan amortisasi adalah dalam metode penghitungan.

Amortisasi biasanya menggunakan metode garis lurus, di mana beban penyusutan yang diakui pada setiap periode akuntansi tetap sama.

Sementara itu, depresiasi sering kali menggunakan metode dipercepat, di mana beban penyusutan yang lebih tinggi dicatat pada periode akuntansi awal.

Selanjutnya, nilai residu atau nilai sisa juga menjadi pembeda antara keduanya.

Dalam amortisasi, aset tak berwujud seringkali diasumsikan tidak memiliki nilai jual kembali, atau nilai residu, pada akhir masa manfaat atau umur ekonomisnya.

Sebaliknya, dalam depresiasi aset berwujud biasanya memiliki nilai residu atau nilai sisa yang dapat dimasukkan dalam perhitungan penyusutan.

Dengan demikian, perbedaan mendasar antara amortisasi dan depresiasi terletak pada jenis aset yang dikenai proses alokasi biaya penyusutan, metode penghitungan yang digunakan, dan keberadaan nilai residu atau nilai sisa dalam perhitungan tersebut.

Baca Juga: Akuntansi Konvensional: Pengertian, Prinsip, hingga Contohnya

Apa Saja Fungsi dan Manfaat dari Amortisasi?

Amortisasi memiliki peran penting dalam akuntansi bisnis karena memberikan manfaat dan fungsi yang signifikan bagi perusahaan.

Pertama-tama, menghitung pengurangan atau penurunan nilai aset adalah cara yang pasti bagi perusahaan untuk memprediksi kesehatan laporan keuangan mereka.

Dengan begitu, perusahaan dapat memahami kondisi keuangan mereka secara lebih baik dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan data yang tepat dan akurat.

Selain itu, perhitungan penurunan nilai aset tak berwujud ini juga memberikan informasi tentang utang yang perusahaan miliki.

Dengan mengalokasikan biaya aset tidak berwujud selama suatu periode, perusahaan dapat mengelola utang dengan lebih baik dan menghindari risiko akumulasi utang yang berlebihan.

Amortisasi juga membantu perusahaan memiliki jadwal pembayaran utang dan bunga yang lebih terstruktur sehingga manajemen dapat mengatur pembayaran utang secara tepat waktu.

Di samping itu, penurunan nilai aset memberikan potongan pajak untuk tahun pajak berjalan.

Biaya amortisasi dapat kita kurangkan dari pendapatan kena pajak, yang membantu perusahaan mengurangi beban pajak dan meningkatkan efisiensi keuangan.

Fungsi lain dari amortisasi adalah menyusun laporan keuangan yang lebih jelas dan terstruktur.

Informasi mengenai pengurangan nilai aset juga memberikan gambaran yang lengkap tentang aset dan kewajiban perusahaan.

Hal tersebut memudahkan analisis dan pemahaman bagi para pemangku kepentingan.

Metode pengurangan ini juga membantu perusahaan mengurangi risiko akumulasi utang bisnis.

Dengan mengatur pembayaran utang secara terstruktur, perusahaan dapat menghindari tekanan keuangan yang berlebihan dan menghadapi masalah keuangan di masa depan.

Selain manfaat di atas, amortisasi juga berperan sebagai cerminan nilai kembali dari aset tidak berwujud.

Dalam konteks pinjaman, perhitungan amortisasi membantu dalam mengevaluasi opsi pinjaman dan mengukur biaya aktual dari barang yang kita beli atau kita pinjam.

Dengan demikian, amortisasi memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan perusahaan dan membantu kita dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Metode-metode dalam Amortisasi

amortisasi

Terdapat beberapa metode yang umum digunakan dalam mengalokasikan biaya aset tak berwujud atau menentukan penurunan nilai aset berwujud secara sistematis selama masa manfaatnya.

Pemilihan metode yang tepat dapat mempengaruhi laporan keuangan suatu perusahaan.

Maka dari itu, penting untuk memahami metode-metode ini dan mengevaluasi bagaimana setiap pendekatan dapat memengaruhi pengakuan biaya dan evaluasi nilai aset selama periode waktu tertentu.

Metode garis lurus

Metode garis lurus atau straight-line method adalah suatu pendekatan dalam akuntansi untuk mengukur penurunan nilai aset tidak berwujud.

Perhitungannya serupa dengan penyusutan atau depresiasi aset berwujud.

Ketika perusahaan mengalokasikan biaya aset tidak berwujud selama suatu periode, biaya tersebut dapat kita hubungkan dengan pendapatan yang perusahaan hasilkan dalam setiap periode akuntansi dan kita kurangkan dari pendapatan selama masa manfaat aset tersebut.

Dengan begitu, rumus yang kita gunakan dalam metode garis lurus adalah sebagai berikut:

Beban amortisasi tahunan = biaya perolehan aset / masa manfaat

Perhitungan biaya perolehan aset dapat mencakup jumlah tercatat aset dan biaya lain yang terkait, seperti komisi, biaya hukum, administrasi, dan lainnya.

Untuk masa manfaat, akan diberikan sebagai perkiraan jika tidak ada masa berlaku yang pasti, sesuai dengan persyaratan negara atau undang-undang.

Metode saldo menurun

Dalam metode saldo menurun atau declining-balance method, biaya yang kita alokasikan akan terus menurun seiring bertambahnya masa manfaat setiap tahunnya.

Pada tahun akhir masa manfaat, penyusutan akan kita lakukan atas nilai sisa buku yang tersisa.

Metode ini menerapkan tarif amortisasi pada nilai sisa buku dan nilai sisa buku harus kita amortisasikan sekaligus pada akhir masa manfaat.

Baca Juga: Mengenal Sistem Akuntansi Persediaan dalam Mempermudah Pencatatan Keuangan

Bagaimana Cara Menghitung Amortisasi?

Menghitung amortisasi merupakan proses yang sangat penting dalam perihal akuntansi dan keuangan.

Prosedur ini memungkinkan perusahaan atau individu untuk memahami secara lebih mendalam mengenai pengurangan nilai aset atau pelunasan pinjaman secara berkala.

Dengan langkah-langkah yang tepat, proses perhitungan ini dapat memberikan wawasan yang berharga mengenai kinerja keuangan suatu entitas selama jangka waktu tertentu.

Kumpulkan data

Dalam langkah pertama ini, data yang relevan untuk menghitung amortisasi harus dikumpulkan dengan seksama.

Data tersebut meliputi jumlah pinjaman atau nilai aset yang akan kita ambil sebagai dasar perhitungan, tingkat bunga yang berlaku, jangka waktu pinjaman, serta periode pelaporan yang akan menjadi acuan dalam proses amortisasi.

Dengan memiliki data-data ini, Anda akan memiliki dasar yang kuat untuk melakukan perhitungan dengan akurat dan tepat waktu.

Siapkan lembar kerja

amortisasi

Persiapan lembar kerja atau spreadsheets menjadi langkah penting dalam menghitung amortisasi.

Dalam langkah ini, Anda membuat sebuah tabel atau lembar kerja yang akan Anda gunakan sebagai alat bantu untuk melakukan perhitungan.

Lembar kerja tersebut terdiri dari beberapa kolom yang mencakup informasi-informasi krusial, seperti periode pelaporan, saldo pinjaman awal, jumlah pembayaran angsuran, bunga yang harus Anda bayar, jumlah amortisasi (pengurangan nilai aset), dan saldo pinjaman akhir.

Dengan adanya lembar kerja ini, proses perhitungan menjadi lebih terstruktur dan sistematis sehingga memudahkan Anda dalam mencatat serta melacak nilai-nilai yang relevan pada setiap periode pelaporan.

Tentukan pinjaman

Menentukan pinjaman dengan bijaksana tentunya tidak kalah penting dengan langkah-langkah lainnya.

Ketika yang harus Anda amortisasikan adalah pinjaman, pihak yang terlibat perlu menentukan jumlah pinjaman atau nilai awal pinjaman yang akan Anda gunakan sebagai dasar perhitungan amortisasi.

Hal ini merupakan langkah krusial untuk memastikan bahwa perhitungan Anda lakukan dengan tepat sesuai dengan nilai pinjaman yang telah diberikan.

Anda juga perlu menyesuaikan jumlah pinjaman dengan kebutuhan dan kemampuan Anda untuk membayar.

Selain itu, perhatikan juga suku bunga, jangka waktu, dan jenis pinjaman yang Anda pilih.

Hal-hal tersebut akan mempengaruhi besarnya cicilan dan total pembayaran yang harus Anda lakukan selama periode amortisasi.

Sebelum mengambil keputusan, pastikan untuk melakukan riset dan berkonsultasi dengan ahli keuangan untuk mendapatkan saran yang tepat mengenai pinjaman yang paling sesuai dengan situasi finansial Anda.

Dengan begitu, Anda dapat mengelola pinjaman dengan lebih baik dan mengurangi risiko kesulitan keuangan di masa mendatang.

Hitung angsuran bunga dan saldo pinjaman

Selanjutnya, langkah yang harus Anda lakukan adalah menghitung angsuran bunga dan saldo pinjaman.

Pada bulan pertama, Anda tentukan pinjaman pada bulan sebelumnya. Lalu, hitunglah jumlah angsuran menggunakan rumus sebagai berikut, di mana P adalah pokok pinjaman, i adalah suku bunga, dan t adalah tenor pinjaman.

Jumlah Angsuran = P x (i / 12) / 1 – (1 + (i / 12) – t)

Kemudian, kalkulasikan angsuran bunga dengan rumus berikut:

Angsuran Bunga = Saldo Pinjaman Bulan Sebelumnya × Suku Bunga × (30/360)

Setelah menentukan angsuran bunga, hitunglah bagian dari angsuran yang akan Anda gunakan untuk mengurangi saldo pinjaman.

Anda dapat menghitung angsuran pokoknya dengan rumus:

Angsuran Pokok = Total Angsuran – Angsuran Bunga

Setelah itu, Anda hitung saldo pinjaman dengan rumus sebagai berikut:

Saldo Pinjaman = Saldo Pinjaman Bulan Sebelumnya – Angsuran Pokok

Setelah Anda berhasil menghitung biaya amortisasi pada bulan pertama, Anda dapat melanjutkan menghitung pada bulan-bulan berikutnya.

Perhitungan tentunya dapat Anda lakukan dengan menggunakan spreadsheet atau tabel yang telah dibuat sebelumnya.

Dalam proses ini, Anda akan melihat bahwa jumlah angsuran pokok bertambah setiap bulan, sedangkan nilai angsuran bunga semakin menurun.

Selain itu, saldo pinjaman juga akan terus berkurang setiap kali angsuran Anda bayarkan.

Dengan demikian, perhitungan amortisasi memungkinkan perusahaan untuk mengetahui besaran pembayaran pokok pinjaman dan bunga dalam setiap periode pelaporan, serta memahami bagaimana pembayaran tersebut berpengaruh pada saldo pinjaman secara keseluruhan.

Ulangi untuk setiap periode pelaporan

Untuk setiap periode pelaporan yang relevan, seperti bulanan atau tahunan, langkah-langkah di atas harus Anda ulangi hingga mencapai akhir jangka waktu pinjaman atau amortisasi.

Dengan melakukan perhitungan secara berulang pada setiap periode, perusahaan atau individu akan dapat secara teratur memantau pengurangan nilai aset atau pelunasan pinjaman seiring berjalannya waktu.

Dengan begitu, perusahaan dapat mengelola keuangan dengan lebih efektif.

Kesimpulan

Amortisasi adalah metode akuntansi untuk mengurangi nilai aset dengan umur manfaat terbatas.

Oleh karena itu, perhitungan yang tepat dan akurat sangatlah penting.

Namun Anda tidak perlu khawatir karena dengan software akuntansi terkini, perhitungan amortisasi dapat dilakukan dengan mudah dan akurat.

Salah satu rekomendasi kami adalah software akuntansi milik Total ERP, yang dapat memudahkan Anda dalam mengelola keuangan perusahaan.

Hal tersebut termasuk alokasi biaya hak paten, penghitungan pembayaran pinjaman, dan pemantauan pengurangan nilai aset dari waktu ke waktu.

Dapatkan Total ERP sekarang dan tingkatkan efisiensi serta ketepatan dalam laporan keuangan perusahaan Anda.

Picture of Ginta Anathia

Ginta Anathia

Pencarian

Berita Terbaru

lorem ipsum dolor

Berita Terpopuler

lorem ipsum dolor

Akselerasi Bisnis Anda Ke Level Berikutnya!

Telah Dipercaya Oleh

Sebentar! Apakah Anda Mau Coba Demo Gratisnya? Cukup isi Form Dibawah ini

Customer Service

Novita
Balasan dalam 1 menit

Novita
Ingin Demo Gratis?

Hubungi kami via WhatsApp, dan sampaikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim ahli kami
6281222849188
×
Dapatkan Demo Gratis!