Retur penjualan adalah pengembalian barang dari pembeli kepada penjual, sedangkan retur pembelian adalah pengembalian barang dari perusahaan kepada pemasok. Keduanya terlihat mirip, tetapi dicatat dengan cara yang berbeda dalam pembukuan karena posisi perusahaan Anda dalam transaksi juga berbeda.
Artikel ini membahas pengertian keduanya, perbedaannya dalam tabel, cara membuat jurnalnya dengan metode perpetual dan periodik, serta dampaknya terhadap laporan keuangan menggunakan satu contoh angka yang konsisten.
Key Takeaways
Retur penjualan adalah pengembalian barang dari pembeli, sedangkan retur pembelian adalah pengembalian barang ke pemasok.
Posisi perusahaan dalam transaksi menentukan dokumen, akun, dan laporan yang terpengaruh.
Metode perpetual butuh dua jurnal, sedangkan metode periodik cukup satu jurnal.
Apa Itu Retur Penjualan?
Retur penjualan adalah transaksi ketika barang yang sudah Anda jual dikembalikan oleh pembeli. Dalam pembukuan, nilai retur ini dicatat ke dalam akun “Retur Penjualan dan Pengurangan Harga” yang berfungsi mengurangi nilai penjualan kotor.
Akun retur penjualan tidak langsung mengurangi akun Penjualan agar Anda tetap bisa melihat berapa besar penjualan asli dan berapa besar barang yang dikembalikan. Angka ini penting untuk evaluasi kualitas produk sekaligus menjaga akurasi persediaan saat barang retur kembali ke gudang.
Apa Itu Retur Pembelian?
Retur pembelian adalah kebalikannya, yaitu ketika perusahaan Anda mengembalikan barang yang sudah dibeli kepada pemasok. Di sini posisi Anda adalah pembeli, sehingga yang berkurang adalah persediaan dan utang usaha, bukan penjualan.
Karena barang keluar dari gudang Anda kembali ke pemasok, pencatatannya harus sejalan dengan dokumen surat jalan pengembalian. Selisih antara catatan pembukuan dan stok fisik biasanya berawal dari retur pembelian yang tidak dicatat.
Perbedaan Retur Penjualan dan Retur Pembelian
Perbedaan paling mendasar antara keduanya terletak pada posisi perusahaan Anda dalam transaksi. Jika Anda yang menerima barang kembali, itu retur penjualan; jika Anda yang mengembalikan barang, itu retur pembelian.
Perbedaan posisi ini kemudian merembet ke dokumen yang dipakai, akun yang tersentuh, arah aliran kas, dan laporan keuangan mana yang terpengaruh. Tabel berikut merangkum enam perbedaan utamanya.
| Aspek | Retur Penjualan | Retur Pembelian |
|---|---|---|
| Posisi perusahaan | Penjual, menerima barang kembali | Pembeli, mengembalikan barang |
| Dokumen utama | Nota kredit | Nota debit |
| Akun yang berkurang | Piutang usaha atau kas | Utang usaha atau persediaan |
| Arah barang | Masuk kembali ke gudang | Keluar dari gudang |
| Pengaruh persediaan | Stok bertambah | Stok berkurang |
| Laporan terdampak | Laba rugi (penjualan bersih) | Neraca (aset dan liabilitas) |
Cara Mencatat Jurnal Retur Penjualan
Agar mudah diikuti, seluruh contoh di artikel ini memakai satu kasus yang sama. PT Maju Jaya menjual 200 unit seharga Rp50.000 per unit atau total Rp10.000.000, dengan harga pokok Rp30.000 per unit. Pembeli mengembalikan 20 unit, sehingga nilai retur adalah Rp1.000.000 dengan harga pokok barang retur Rp600.000.
1. Metode Perpetual: Retur Tunai
Pada penjualan tunai, uang pembeli dikembalikan sehingga akun Kas yang berkurang. Metode perpetual butuh dua jurnal karena stok dan harga pokok ikut disesuaikan saat itu juga.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Retur Penjualan | Rp1.000.000 | — |
| Kas | — | Rp1.000.000 |
| Persediaan Barang Dagang | Rp600.000 | — |
| Harga Pokok Penjualan | — | Rp600.000 |
2. Metode Perpetual: Retur Kredit
Jika penjualan dilakukan secara kredit, pembeli belum membayar sehingga yang berkurang adalah Piutang Usaha, bukan Kas. Sisa jurnalnya sama persis dengan retur tunai.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Retur Penjualan | Rp1.000.000 | — |
| Piutang Usaha | — | Rp1.000.000 |
| Persediaan Barang Dagang | Rp600.000 | — |
| Harga Pokok Penjualan | — | Rp600.000 |
3. Metode Periodik
Pada metode periodik, Anda hanya membuat satu jurnal karena persediaan dan harga pokok penjualan tidak disesuaikan saat transaksi. Penyesuaian stok baru dilakukan lewat perhitungan fisik di akhir periode.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Retur Penjualan | Rp1.000.000 | — |
| Piutang Usaha | — | Rp1.000.000 |
Cara Mencatat Jurnal Retur Pembelian
Masih memakai kasus PT Maju Jaya, perusahaan membeli barang senilai Rp10.000.000 dari pemasok dan mengembalikan sebagian senilai Rp1.000.000 karena tidak sesuai spesifikasi. Nilai ini yang dipakai pada seluruh contoh jurnal di bawah.
1. Metode Perpetual: Retur Tunai
Jika pembelian sebelumnya dibayar tunai, pemasok mengembalikan uang Anda sehingga akun Kas bertambah. Persediaan langsung berkurang karena metode perpetual memantau stok secara real-time.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas | Rp1.000.000 | — |
| Persediaan Barang Dagang | — | Rp1.000.000 |
2. Metode Perpetual: Retur Kredit
Untuk pembelian kredit, Anda belum membayar pemasok sehingga yang berkurang adalah Utang Usaha. Inilah bentuk jurnal retur pembelian yang paling sering ditemui di perusahaan dagang.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Utang Usaha | Rp1.000.000 | — |
| Persediaan Barang Dagang | — | Rp1.000.000 |
3. Metode Periodik
Pada metode periodik, akun Persediaan tidak disentuh. Sebagai gantinya, Anda memakai akun khusus bernama Retur Pembelian yang nanti menjadi pengurang total pembelian di akhir periode.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Utang Usaha | Rp1.000.000 | — |
| Retur Pembelian | — | Rp1.000.000 |
Dampak Retur ke Laporan Keuangan
Bagian ini menunjukkan perhitungan lengkapnya menggunakan angka PT Maju Jaya yang sama seperti sebelumnya, agar Anda bisa melihat perjalanan angka dari jurnal sampai ke laporan akhir. Pemahaman ini juga membantu saat Anda menyusun rekonsiliasi antara catatan pembukuan dan mutasi sebenarnya.
1. Dampak Retur Penjualan terhadap HPP dan Laba Kotor
Retur penjualan mengurangi penjualan kotor, tetapi juga mengurangi harga pokok penjualan karena barang kembali menjadi persediaan. Jadi laba kotor tidak turun sebesar nilai returnya.
| Komponen | Sebelum Retur | Sesudah Retur | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan | Rp10.000.000 | Rp10.000.000 | — |
| Retur Penjualan | Rp0 | (Rp1.000.000) | Rp1.000.000 |
| Penjualan Bersih | Rp10.000.000 | Rp9.000.000 | Turun Rp1.000.000 |
| Harga Pokok Penjualan | Rp6.000.000 | Rp5.400.000 | Turun Rp600.000 |
| Laba Kotor | Rp4.000.000 | Rp3.600.000 | Turun Rp400.000 |
Laba kotor hanya turun Rp400.000, bukan Rp1.000.000, karena harga pokok barang yang kembali sebesar Rp600.000 ikut dikeluarkan dari beban. Selisih inilah yang sering terlewat jika retur hanya dicatat sebagai pengurang penjualan saja.
2. Dampak Retur Pembelian terhadap Neraca
Retur pembelian tidak menyentuh laporan laba rugi pada metode perpetual, melainkan langsung mengubah neraca. Aset dan liabilitas sama-sama berkurang dengan nilai yang sama, sehingga neraca tetap seimbang.
| Pos Neraca | Sebelum Retur | Sesudah Retur |
|---|---|---|
| Aset: Persediaan | Rp10.000.000 | Rp9.000.000 |
| Liabilitas: Utang Usaha | Rp10.000.000 | Rp9.000.000 |
| Selisih | Seimbang | Seimbang |
3. Simulasi Gabungan dalam Satu Periode
Dalam praktiknya, kedua jenis retur bisa terjadi di periode yang sama. Berikut ringkasan posisi PT Maju Jaya setelah mencatat retur penjualan Rp1.000.000 dan retur pembelian Rp1.000.000 secara bersamaan.
| Pos Laporan | Nilai Akhir | Keterangan |
|---|---|---|
| Penjualan Bersih | Rp9.000.000 | Setelah dikurangi retur penjualan |
| Harga Pokok Penjualan | Rp5.400.000 | Setelah pemulihan HPP barang retur |
| Laba Kotor | Rp3.600.000 | Turun Rp400.000 dari posisi awal |
| Persediaan Akhir | Rp9.600.000 | Retur pembelian turun Rp1jt, retur penjualan naik Rp600rb |
| Utang Usaha | Rp9.000.000 | Berkurang oleh nota debit |
| Piutang Usaha | Berkurang Rp1.000.000 | Berkurang oleh nota kredit |
Mengelola Retur Lebih Rapi dengan Sistem Akuntansi

Semakin banyak transaksi retur yang terjadi setiap hari, semakin besar peluang jurnal, kartu stok, dan piutang tidak lagi sinkron satu sama lain. Sistem yang terintegrasi menutup celah itu dengan membuat satu dokumen retur otomatis memicu seluruh pembaruan yang diperlukan.
Beberapa fitur yang biasanya dibutuhkan untuk menangani retur secara rapi:
- Pembuatan nota kredit dan nota debit otomatis yang langsung terhubung ke faktur aslinya
- Jurnal otomatis untuk retur tunai maupun kredit, termasuk pemulihan HPP pada metode perpetual
- Pembaruan kartu stok real-time saat barang retur masuk atau keluar gudang
- Penyesuaian piutang dan utang usaha tanpa perlu input ulang di modul terpisah
- Laporan laba rugi dan neraca yang langsung mencerminkan dampak retur di periode berjalan
- Jejak audit lengkap untuk menelusuri siapa yang mencatat retur dan kapan dilakukan
Fitur-fitur tersebut tersedia dalam software accounting Total ERP yang menghubungkan modul penjualan, pembelian, persediaan, dan akuntansi dalam satu alur. Jika pencatatan retur di perusahaan Anda masih tersebar di beberapa file terpisah, sistem seperti ini bisa jadi langkah awal untuk merapikannya.
Kesimpulan
Retur penjualan dan retur pembelian sama-sama merupakan pengembalian barang, tetapi posisi perusahaan Anda dalam transaksi menentukan seluruh cara pencatatannya. Retur penjualan mengurangi penjualan dan piutang, sedangkan retur pembelian mengurangi persediaan dan utang usaha.
Dampaknya tidak berhenti di jurnal karena satu transaksi retur ikut mengubah HPP, laba kotor, dan neraca dalam periode yang sama. Mencatatnya secara konsisten dan tepat waktu adalah kunci agar laporan keuangan Anda mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
FAQ tentang Retur Penjualan dan Pembelian












