Inventory Aging: Contoh Report, Rumus & Template Excel

Inventory Aging: Contoh Report, Rumus & Template Excel

Inventory Aging: Contoh Report, Rumus & Template Excel

Inventory aging adalah analisis untuk mengukur berapa lama setiap persediaan tersimpan hingga tanggal laporan tertentu. Hasilnya dikelompokkan ke dalam age bucket, seperti 0–30 hari, 31–60 hari, dan lebih dari 120 hari.

Pengelompokan tersebut membantu tim gudang, pembelian, penjualan, dan keuangan melihat jumlah serta nilai stok pada setiap rentang umur. Konsep ini sejalan dengan dokumentasi Microsoft Learn yang membagi kuantitas dan nilai persediaan ke dalam beberapa periode umur.

Artikel ini membahas cara menentukan tanggal dasar, menghitung umur persediaan, membuat laporan Excel, membaca hasilnya, dan menentukan tindakan yang sesuai untuk setiap kelompok stok.

Key Takeaways

Inventory aging adalah analisis umur persediaan pada tanggal tertentu untuk menunjukkan berapa lama setiap barang tersimpan.

Umur stok dihitung dari tanggal dasar, kemudian dikelompokkan ke dalam age bucket sesuai kebijakan perusahaan.

Stok berumur lama belum tentu dead stock karena pergerakan, permintaan, dan kondisi barang tetap perlu diperiksa.

Apa Itu Inventory Aging?

Inventory aging adalah proses mengukur berapa lama barang berada dalam persediaan sejak tanggal dasar sampai tanggal laporan. Tanggal laporan yang menjadi titik akhir perhitungan disebut as-of date.

Inventory aging report biasanya memuat kode barang, tanggal penerimaan, jumlah yang tersisa, umur stok, kelompok umur, nilai persediaan, dan status tindak lanjut. Data tersebut membantu perusahaan melihat bukan hanya berapa banyak barang yang tersedia, tetapi juga sudah berapa lama barang tersebut tersimpan.

Inventory aging berbeda dari laporan stock opname yang membandingkan stok fisik dengan catatan sistem. Stock opname menjawab apakah jumlah stok sudah akurat, sedangkan inventory aging menunjukkan berapa lama stok yang tercatat tersebut berada di gudang.

Contoh Inventory Aging Report dan Cara Membacanya

Contoh ini juga memperlihatkan satu SKU yang berasal dari dua penerimaan berbeda. Pemisahan tersebut diperlukan agar penerimaan baru tidak menutupi umur stok lama.

Pada barang yang tidak dilacak menggunakan lot atau nomor serial, saldo setiap receipt tidak selalu dapat diidentifikasi secara fisik. Karena itu, perusahaan perlu menetapkan metode alokasi barang keluar.

Dalam contoh ini, barang keluar diasumsikan mengurangi receipt tertua terlebih dahulu menggunakan metode FIFO. Hanya saldo receipt yang masih tersisa pada as-of date yang dimasukkan ke dalam laporan.

SKU Receipt Date Gudang Qty Unit Cost Umur Bucket Nilai
A-001 15 Jul 2026 Jakarta 100 Rp50.000 16 hari 0–30 Rp5.000.000
A-001 10 Mei 2026 Jakarta 60 Rp50.000 82 hari 61–90 Rp3.000.000
B-014 25 Jun 2026 Jakarta 40 Rp120.000 36 hari 31–60 Rp4.800.000
C-008 1 Apr 2026 Surabaya 20 Rp200.000 121 hari >120 Rp4.000.000
D-003 20 Apr 2026 Surabaya 75 Rp80.000 102 hari 91–120 Rp6.000.000
E-021 1 Feb 2026 Surabaya 15 Rp300.000 180 hari >120 Rp4.500.000

Nilai seluruh persediaan dalam contoh tersebut adalah Rp27.300.000. Nilainya kemudian diringkas berdasarkan kelompok umur berikut.

Age Bucket Nilai Stok Komposisi
0–30 hari Rp5.000.000 18,3%
31–60 hari Rp4.800.000 17,6%
61–90 hari Rp3.000.000 11,0%
91–120 hari Rp6.000.000 22,0%
>120 hari Rp8.500.000 31,1%

Bucket di atas 120 hari memiliki nilai terbesar, yaitu Rp8.500.000. Namun, tim tetap perlu memeriksa permintaan, kondisi barang, masa simpan, rencana produksi, dan peluang transfer sebelum menentukan tindakan.

SKU A-001 terdiri dari 100 unit berumur 16 hari dan 60 unit berumur 82 hari. Pencatatan per receipt diperlukan agar penerimaan baru tidak menutupi stok lama dan memengaruhi keputusan pembelian.

Template Laporan Inventory Aging

Unduh template Excel untuk menghitung umur stok dengan Gratis!

Perbedaan Aged Inventory, Slow-Moving, Dead Stock, dan Expired Stock

Stok yang berumur tua belum tentu tidak laku atau tidak dapat digunakan. Umur persediaan perlu diperiksa bersama data pergerakan, permintaan, kondisi barang, dan tanggal kedaluwarsa.

Perbedaan setiap kategori dapat dilihat pada tabel berikut.

Istilah Ciri Utama Tindakan Awal

Aged inventory
Tersimpan melewati batas umur tertentu. Periksa permintaan dan rencana penggunaan.

Slow-moving inventory
Penjualan atau pemakaiannya melambat. Evaluasi pembelian, harga, atau promosi.

Dead stock
Tidak lagi diperkirakan terjual atau digunakan. Pertimbangkan retur, penjualan khusus, atau penghapusan.

Expired stock
Telah melewati tanggal kedaluwarsa. Blokir penggunaan lalu proses retur atau pemusnahan.

Suku cadang mesin yang tersimpan selama delapan bulan dapat termasuk aged inventory, tetapi belum tentu bermasalah jika masih dibutuhkan untuk perawatan tahunan.

Sebaliknya, produk musiman yang baru disimpan selama tiga bulan dapat menjadi dead stock ketika musim penjualannya berakhir dan tidak ada permintaan berikutnya. Karena itu, keputusan tidak boleh dibuat berdasarkan umur stok saja.

Komponen yang Harus Ada dalam Inventory Aging Report

Laporan yang hanya berisi nama barang dan umur stok sulit dipakai untuk mengambil keputusan. Tim masih harus membuka dokumen lain untuk mengetahui asal barang, lokasi, jumlah, nilai, dan pihak yang bertanggung jawab atas tindak lanjutnya.

Selain umur barang, kondisi stok juga perlu dibaca lewat rata-rata saldo persediaan sepanjang periode agar terlihat apakah penumpukan terjadi terus-menerus atau hanya sesaat.

Inventory aging report yang baik menyatukan informasi tersebut dalam satu tampilan. Setiap kolom harus mempunyai fungsi yang jelas dan dapat ditelusuri kembali ke dokumen sumber.

Kolom Fungsi Contoh
SKU dan nama barang Mengidentifikasi item. A-001, Filter Industri
Receipt, batch, atau lot Memisahkan satu SKU berdasarkan penerimaannya. RCV-150726
Gudang Menunjukkan lokasi fisik barang. Gudang Jakarta
Base date Menjadi tanggal awal perhitungan umur. 15 Juli 2026
Expiry date Menunjukkan batas penggunaan barang jika berlaku. 15 Januari 2027
On-hand quantity Jumlah yang masih tersedia. 100 unit
Unit cost Dasar menghitung nilai stok. Rp50.000
Age dan bucket Menunjukkan umur dan kelompok umur barang. 16 hari, 0–30 hari
Stock value Menunjukkan nilai barang yang masih tersimpan. Rp5.000.000
Status dan PIC Mencatat pemeriksaan serta penanggung jawab. Review demand, Procurement

Riwayat penerimaan dan pergerakan harus dapat ditelusuri kembali ke dokumen sumber. Bila perusahaan masih menggunakan pencatatan manual, buku stok barang dapat menjadi salah satu sumber pemeriksaan.

Cara Menghitung Inventory Aging

Prosesnya terdiri dari menetapkan tanggal laporan, memilih tanggal dasar, menghitung umur, mengelompokkan hasil ke age bucket, dan meringkas nilai stok. Setiap tahap perlu memakai aturan yang sama untuk seluruh item dalam kategori yang sejenis.

1. Tetapkan as-of date

As-of date adalah tanggal posisi laporan. Jika laporan dibuat untuk penutupan Juli 2026, as-of date dapat ditetapkan pada 31 Juli 2026.

Semua baris harus dihitung menggunakan tanggal tersebut. Menggunakan tanggal laporan yang berbeda pada beberapa baris akan membuat komposisi bucket tidak dapat dibandingkan.

2. Tentukan base date

Pilih tanggal yang menjadi awal umur persediaan. Untuk mengetahui lamanya barang tersimpan di gudang, receipt date biasanya menjadi pilihan yang paling mudah dipahami.

Jika perusahaan memproduksi barang sendiri, production date dapat dipakai untuk kebutuhan tertentu. Aturan tersebut harus diterapkan secara konsisten dan dijelaskan dalam sheet Petunjuk.

3. Hitung umur setiap lapisan persediaan

Umur dihitung dari selisih antara as-of date dan base date. Inilah rumus utama dalam inventory aging: Umur persediaan = As-of date − Base date

Barang yang diterima pada 10 Mei 2026 dan dihitung pada 31 Juli 2026 mempunyai umur 82 hari. Barang tersebut masuk ke bucket 61–90 hari apabila perusahaan memakai rentang 0–30, 31–60, 61–90, 91–120, dan lebih dari 120 hari.

Hasil negatif menunjukkan adanya kesalahan data karena base date berada setelah tanggal laporan. Jangan mengubah hasil tersebut menjadi nol tanpa pemeriksaan. Periksa apakah terjadi kesalahan input tanggal, transaksi masa depan, atau keterlambatan posting.

4. Kelompokkan umur ke age bucket

Setelah umur setiap baris diketahui, masukkan hasilnya ke kelompok yang sesuai. Pengelompokan dapat dilakukan melalui fungsi IF atau IFS di Excel, tetapi logika batas hari harus diperiksa dengan teliti.

Pastikan tidak ada hari yang masuk ke dua bucket atau justru tidak masuk ke kelompok mana pun. Jika bucket pertama berakhir pada hari ke-30, bucket berikutnya harus dimulai pada hari ke-31.

5. Hitung nilai setiap baris

Nilai stok diperoleh dengan mengalikan jumlah yang masih tersedia dengan biaya per unit. Contohnya, 100 unit dengan biaya Rp50.000 per unit mempunyai nilai persediaan Rp5.000.000.

Tentukan dasar biaya bersama tim keuangan, seperti biaya per receipt, biaya standar, atau rata-rata tertimbang. Pastikan metode yang digunakan terdokumentasi dan nilai inventory aging dapat direkonsiliasi dengan catatan persediaan.

Jangan mencampur harga jual, biaya pembelian, biaya standar, dan biaya rata-rata dalam laporan yang sama tanpa penjelasan.

6. Ringkas kuantitas dan nilai per bucket

Jumlahkan kuantitas dan nilai seluruh baris pada setiap kelompok umur. Ringkasan nilai membantu manajemen melihat kelompok mana yang menahan modal paling besar, sedangkan ringkasan kuantitas membantu tim gudang memahami volume fisiknya.

Persentase setiap bucket dapat dihitung dengan membandingkan nilai bucket terhadap total nilai stok. Persentase ini memudahkan pembandingan antarperiode meskipun total persediaan berubah.

7. Baca aging bersama data pergerakan

Inventory aging tidak menunjukkan seberapa sering barang terjual atau digunakan. Karena itu, hasilnya perlu dibandingkan dengan riwayat penjualan, pemakaian produksi, pesanan terbuka, atau kebutuhan perawatan.

Metrik tersebut berbeda dari inventory turnover ratio. Aging mengukur umur unit yang masih tersimpan pada satu tanggal, sedangkan turnover mengukur seberapa sering persediaan terjual atau digunakan selama satu periode.

Kapan Spreadsheet Tidak Lagi Cukup?

Spreadsheet masih memadai ketika jumlah data terbatas, laporan tidak terlalu sering dibuat, dan perubahan dapat dikendalikan oleh satu tim. Risiko meningkat ketika beberapa pengguna mengubah file yang sama atau satu SKU memiliki banyak receipt di beberapa gudang.

Kondisi Spreadsheet Masih Memadai Sistem Lebih Tepat
Jumlah SKU dan receipt Data terbatas dan mudah diperiksa manual. Ribuan baris berubah setiap hari.
Jumlah gudang Satu lokasi dengan transaksi sederhana. Banyak gudang, cabang, atau lokasi transit.
Frekuensi laporan Bulanan atau sesuai kebutuhan. Harian dan perlu diperbarui otomatis.
Kontrol perubahan Satu pemilik file dan versi mudah dikendalikan. Banyak pengguna membutuhkan hak akses berbeda.
Audit trail Catatan perubahan sederhana masih cukup. Setiap perubahan dan persetujuan harus dapat ditelusuri.

Jika data sudah tersebar di banyak file, proses pembuatan aging report akan semakin bergantung pada salin-tempel dan pemeriksaan manual. Pada tahap ini, perusahaan dapat mengevaluasi software inventory management yang menghubungkan penerimaan, perpindahan, saldo stok, dan laporan umur persediaan dalam sumber data yang sama.

Cara Menghindari Penumpukan Inventory Aging

dashboard inventory aging

Inventory aging merupakan metode analisis yang membantu perusahaan memantau umur stok. Hal yang perlu dicegah adalah penumpukan persediaan lama akibat pembelian berlebih, pergerakan lambat, atau distribusi yang tidak merata.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan agar stok tidak terus berpindah ke age bucket yang lebih tua.

1. Sesuaikan pembelian dengan permintaan

Gunakan riwayat penjualan, rencana produksi, dan tren permintaan sebelum membuat pesanan. Hindari membeli dalam jumlah besar hanya untuk mengejar potongan harga jika kebutuhan barang belum jelas.

2. Tetapkan batas stok yang sesuai

Tentukan batas minimum, maksimum, reorder point, dan safety stock untuk setiap kategori barang. Batas tersebut perlu ditinjau secara berkala karena pola permintaan dan waktu pengiriman pemasok dapat berubah.

3. Keluarkan stok lama lebih dahulu

Gunakan FIFO untuk memprioritaskan stok yang lebih dahulu diterima. Untuk barang yang memiliki masa berlaku, gunakan FEFO agar produk dengan tanggal kedaluwarsa terdekat dikeluarkan terlebih dahulu.

4. Pantau laporan aging secara berkala

Periksa perpindahan nilai dan kuantitas stok pada setiap age bucket. Pemantauan rutin membantu perusahaan menemukan barang yang mulai menua sebelum jumlah dan nilainya semakin besar.

5. Tindak lanjuti stok yang mulai menua

Bandingkan permintaan antarwilayah, lalu pertimbangkan transfer gudang, bundling, promosi, retur pemasok, atau penggunaan alternatif. Setiap tindakan perlu memiliki PIC dan tenggat agar tidak berhenti sebagai temuan laporan.

6. Gunakan sistem inventory terintegrasi

Ketika SKU, receipt, dan lokasi gudang semakin banyak, pengelolaan spreadsheet menjadi lebih rentan terhadap data ganda dan keterlambatan pembaruan.

Software inventory Total ERP
dapat membantu menyatukan data penerimaan, perpindahan, dan saldo persediaan sehingga pemantauan umur stok serta tindak lanjutnya lebih mudah dilakukan.

Kesimpulan

Inventory aging report bukan sekadar daftar barang yang sudah lama tersimpan. Laporan ini harus menunjukkan umur, jumlah, nilai, lokasi, dan bukti yang perlu diperiksa sebelum keputusan dibuat.

Mulailah dengan base date yang konsisten dan data per receipt. Setelah hasilnya direkonsiliasi, tetapkan PIC, tindakan, tenggat waktu, serta persetujuan untuk setiap temuan.

Alur tersebut membantu perusahaan menangani risiko stok lebih awal tanpa menyimpulkan kondisi barang hanya dari usianya. Laporan baru memberi manfaat ketika hasil analisis diterjemahkan menjadi pemeriksaan dan tindakan yang dapat ditelusuri.

FAQ Inventory Aging

Stok konsinyasi sebaiknya dipisahkan dari persediaan milik perusahaan karena kepemilikannya masih berada pada pemasok. Namun, umur stok tersebut tetap dapat dipantau untuk menilai kebutuhan ruang, potensi penumpukan, dan waktu pengembalian barang kepada pemasok.

Secara prinsip, perpindahan internal antar gudang tidak seharusnya mengubah umur asli persediaan karena barang yang sama hanya berpindah lokasi. Namun, beberapa sistem dapat mencatat transfer masuk sebagai penerimaan baru sehingga umur stok pada gudang tujuan terlihat lebih muda.

Untuk mencegahnya, perusahaan perlu mempertahankan original receipt date, production date, atau riwayat asal barang selama proses transfer. Konfigurasi laporan juga perlu diperiksa agar tanggal penerimaan transfer tidak menggantikan tanggal dasar yang digunakan untuk menghitung umur persediaan.

Produk musiman perlu menggunakan bucket dan batas tindakan yang mengikuti siklus penjualannya. Hasilnya juga sebaiknya dibandingkan dengan musim yang sama pada periode sebelumnya agar stok yang sedang menunggu musim berikutnya tidak langsung dianggap bermasalah.

Tim gudang bertugas memastikan jumlah dan lokasi stok, sedangkan tim penjualan atau perencanaan menilai peluang penggunaannya. Keputusan seperti diskon, retur, pemindahan, atau penyesuaian nilai perlu mendapat persetujuan pihak yang memiliki kewenangan sesuai kebijakan perusahaan.

Simpan laporan sebagai snapshot berdasarkan tanggal analisis dan jangan mengganti data periode lama. Catat sumber data, waktu pembuatan, pembuat laporan, perubahan yang dilakukan, serta persetujuan atas tindakan agar setiap keputusan dapat ditelusuri kembali.

Humaira Annisa

Content Writer

Penulis konten Total ERP yang membahas software bisnis, ERP, dan operasional perusahaan.

Dengan pengalaman 9 tahun di bidang Inventory dan Facility Management System (FMS), Nauval kini menjabat sebagai Inventory & FMS Specialist di Total ERP. Latar belakangnya di Industrial Engineering dari Universitas Negeri Jakarta mendukung keahliannya dalam merancang solusi efisiensi operasional dan manajemen aset.

Total ERP mengikuti standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber primer seperti regulasi, panduan industri, dan publikasi tepercaya agar konten tetap akurat dan relevan.