Material sisa di pabrik sering dianggap tidak berguna meskipun beberapa di antaranya masih bisa dijual atau dipakai kembali. Jika dicatat dan dikelola dengan baik, produk sampingan dapat membantu perusahaan mengurangi pemborosan bahan baku.
Pengelolaan produk sampingan membantu pabrik menekan limbah, menjaga area produksi tetap rapi, dan membuka peluang pendapatan tambahan. Maka, perusahaan perlu melihat material sisa produksi sebagai bagian dari efisiensi produksi, bukan sekadar beban operasional.
Key Takeaways
Produk sampingan merupakan hasil sekunder proses manufaktur yang masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola tepat.
Karakteristik utamanya terlihat dari nilai jual yang lebih rendah dibanding produk utama, tetapi tetap bisa dimanfaatkan untuk pendapatan tambahan.
Sistem digital membantu perusahaan mencatat volume, biaya, stok, dan nilai produk sampingan secara lebih akurat.
- Apa Itu Produk Sampingan?
- Klasifikasi Produk Sampingan Berdasarkan Pengelolaannya
- Karakteristik dan Manfaat Produk Sampingan bagi Perusahaan Manufaktur
- Contoh Produk Sampingan di Berbagai Industri Pabrik Indonesia
- Pencatatan Akuntansi Produk Sampingan atau Byproduct
- Cara Mengelola Produk Sampingan Secara Efektif
- Kapan Produk Sampingan Perlu Dikelola dengan Sistem?
- Software Advanced Manufacturing dari Total ERP
- Berapa Estimasi Biaya Pengelolaan Produk Sampingan dengan Sistem?
- Studi Kasus Pemanfaatan Produk Sampingan dalam Industri
- Kesimpulan
Apa Itu Produk Sampingan?
Produk sampingan adalah hasil tambahan yang muncul saat perusahaan memproduksi barang utama. Hasil ini tidak menjadi target utama produksi, tetapi masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat.
Produk sampingan sering disamakan dengan produk utama atau joint product, padahal ketiganya memiliki tujuan dan perlakuan biaya yang berbeda. Perbedaan ini penting dipahami agar perusahaan tidak salah mencatat hasil produksi dalam laporan operasional produksi maupun keuangan.
Agar lebih mudah dibandingkan, tabel berikut merangkum perbedaan produk sampingan, produk utama, dan joint product dari sisi tujuan produksi, nilai jual, serta cara pengelolaannya.
| Aspek Perbandingan | Produk Utama | Produk Sampingan | Joint Product |
|---|---|---|---|
| Tujuan produksi | Target utama produksi. | Hasil tambahan dari proses produksi. | Beberapa hasil utama dalam satu proses. |
| Nilai jual | Paling tinggi dan menjadi fokus penjualan. | Lebih rendah dari produk utama. | Sama-sama signifikan bagi pendapatan. |
| Perlakuan biaya | Biaya dihitung langsung per produk. | Biaya dicatat sederhana atau setelah proses tambahan. | Biaya bersama dialokasikan proporsional. |
| Contoh | Gula dari pengolahan tebu. | Ampas tebu, dedak, atau serbuk kayu. | Produk turunan minyak bumi. |
| Dasar klasifikasi | Dilihat dari target produksi utama. | Dilihat dari nilai ekonomi yang lebih kecil. | Dilihat dari nilai ekonomi yang setara. |
Klasifikasi Produk Sampingan Berdasarkan Pengelolaannya
Produk sampingan dapat dibagi berdasarkan kesiapan material untuk dijual atau digunakan kembali. Klasifikasi ini membantu perusahaan menentukan apakah hasil samping bisa langsung masuk pasar atau perlu diproses lebih dulu.
Saleable vs Needs-Processing By-Product
Produk sampingan dapat langsung dijual atau membutuhkan proses tambahan, tergantung kondisi material, standar kualitas, dan nilai jualnya.
Saleable By-Product
- Sudah memenuhi standar jual dasar.
- Tidak membutuhkan proses lanjutan yang besar.
- Bisa langsung dicatat sebagai stok atau barang siap jual.
- Biaya penanganannya relatif lebih rendah.
Needs-Processing By-Product
- Masih memerlukan pemurnian, pengeringan, atau pengolahan lanjutan.
- Memiliki biaya tambahan sebelum masuk pasar.
- Nilai jualnya meningkat setelah diproses.
- Perlu pemantauan biaya agar tetap menguntungkan.
![]()
Karakteristik dan Manfaat Produk Sampingan bagi Perusahaan Manufaktur
Produk sampingan memiliki karakteristik yang berbeda dari produk utama, tetapi tetap memberi manfaat operasional jika dicatat dengan benar. Berikut adalah beberapa karakteristik produk sampingan yang dapat muncul dalam operasi manufaktur.
- Bukan tujuan utama produksi: Produk sampingan muncul dari proses produksi utama, sehingga perusahaan perlu memisahkan pencatatannya dari output utama agar laporan produksi tetap akurat.
- Memiliki nilai jual lebih rendah: Nilai ekonominya biasanya lebih kecil dibanding produk utama, tetapi tetap bisa menambah pendapatan jika volumenya besar dan pasar pembelinya jelas.
- Bisa dijual, dipakai ulang, atau diolah kembali: Beberapa hasil samping dapat langsung dijual, sementara material lain perlu diproses ulang agar nilai jualnya meningkat.
- Mengurangi pemborosan bahan baku: Pemanfaatan hasil samping membantu perusahaan memaksimalkan setiap bagian material yang sudah masuk ke proses produksi.
- Mendukung efisiensi operasional: Pencatatan produk sampingan mendorong tim produksi, gudang, dan finance bekerja dengan data yang sama saat menghitung stok dan biaya.
- Mendukung target keberlanjutan: Pemanfaatan hasil samping sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena perusahaan dapat mengurangi material terbuang dan meningkatkan penggunaan ulang.
Jason Armando, CPIM, LSSBB, Senior ERP Consultant
Contoh Produk Sampingan di Berbagai Industri Pabrik Indonesia
Produk sampingan banyak ditemukan di sektor manufaktur Indonesia, terutama pada industri berbasis hasil pertanian dan perkebunan. Berikut adalah beberapa contoh pemanfaatannya di pabrik-pabrik Indonesia.
1. Produk sampingan di pabrik kelapa sawit
Pabrik kelapa sawit menghasilkan CPO sebagai produk utama, tetapi proses pengolahannya juga menghasilkan tandan kosong sawit, cangkang, fiber, dan palm kernel cake. Hasil samping ini penting dicatat karena volumenya besar dan memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi.
Tankos dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau bahan kompos, sedangkan cangkang dan fiber sering digunakan sebagai bahan bakar boiler. Sementara itu, palm kernel cake dapat dijual sebagai bahan pakan ternak.
2. Produk sampingan di pabrik tahu dan tempe
Pabrik tahu dan tempe menghasilkan ampas kedelai dari proses penggilingan dan penyaringan bahan baku. Bagi banyak produsen skala kecil hingga menengah di Indonesia, ampas kedelai menjadi produk sampingan yang masih memiliki permintaan dari peternak.
Ampas kedelai dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena masih mengandung protein dan serat. Jika dikelola dengan pencatatan yang rapi, produsen tahu dan tempe bisa mengetahui volume ampas yang dihasilkan setiap hari dan menjualnya secara lebih teratur kepada pembeli tetap.
3. Produk sampingan di pabrik pengolahan kopi
Pabrik pengolahan kopi menghasilkan cherry pulp atau kulit buah kopi dari proses pemisahan biji kopi. Material ini sering dianggap limbah, padahal masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian dan energi alternatif.
Cherry pulp dapat diolah menjadi pupuk organik untuk kebun kopi atau komoditas pertanian lain. Selain itu, beberapa pengolah juga memanfaatkannya sebagai bahan briket, sehingga pabrik kopi dapat mendukung praktik produksi yang lebih berkelanjutan.
4. Produk sampingan di pabrik pengolahan kelapa
Industri pengolahan kelapa menghasilkan berbagai produk sampingan seperti sabut, tempurung, dan batok kelapa. Material ini memiliki nilai ekonomi karena dapat digunakan kembali oleh industri rumah tangga, pertanian, hingga energi.
Sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat, cocofiber, atau media tanam. Sementara itu, batok kelapa dapat diproses menjadi arang, briket, atau bahan baku karbon aktif, sehingga pabrik kelapa memiliki peluang untuk membangun lini pendapatan tambahan dari hasil sampingnya.
5. Produk sampingan di pabrik gula tebu
Pabrik gula menghasilkan gula sebagai produk utama, sedangkan ampas tebu atau bagasse dan molase menjadi hasil samping yang umum ditemukan. Kedua material ini memiliki fungsi penting bagi operasional pabrik dan industri lanjutan.
Ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk mendukung kebutuhan energi pabrik. Molase juga memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi etanol, bahan fermentasi, atau bahan pendukung industri pangan seperti MSG.
Pencatatan Akuntansi Produk Sampingan atau Byproduct
Pencatatan produk sampingan dapat dilakukan dengan beberapa metode, tergantung pada nilai ekonomi dan tujuan penggunaannya dalam bisnis. Pemilihan metode yang tepat membantu finance menilai dampak hasil samping terhadap biaya produksi dan pendapatan perusahaan.
| Metode | Cara Kerja | Cocok Digunakan Saat |
|---|---|---|
| Pendapatan lain-lain | Penjualan produk sampingan dicatat sebagai pendapatan lain-lain saat produk terjual. | Nilai produk sampingan kecil dan tidak banyak memengaruhi biaya produksi utama. |
| Pengurang biaya produksi | Nilai jual produk sampingan digunakan untuk mengurangi total biaya produksi. | Perusahaan ingin menekan beban produksi utama dari hasil samping yang dijual. |
| Nilai realisasi bersih | Produk sampingan dicatat dari estimasi harga jual setelah dikurangi biaya proses tambahan. | Produk sampingan perlu diolah lagi dan memiliki nilai ekonomi yang cukup material. |
Cara Mengelola Produk Sampingan Secara Efektif

Manajemen yang buruk akan membuat potensi keuntungan berubah menjadi biaya penyimpanan, pengolahan, atau pembuangan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa perusahaan lakukan untuk mengelola produk sampingan agar lebih optimal.
1. Identifikasi hasil samping di setiap tahap produksi
Lakukan audit menyeluruh di setiap mesin untuk mengetahui material apa saja yang keluar selain produk utama. Pemetaan ini membantu manajemen memahami volume dan frekuensi munculnya hasil samping tersebut.
Contohnya, pabrik kelapa sawit perlu mencatat berapa banyak tankos, cangkang, fiber, dan palm kernel cake yang muncul dari proses pengolahan CPO. Data ini membantu perusahaan mengetahui hasil samping mana yang bisa digunakan kembali, dijual, atau membutuhkan penanganan khusus.
2. Kelompokkan berdasarkan nilai ekonomi dan potensi olah lanjut
Pisahkan material yang bisa langsung dijual dengan material yang memerlukan pemrosesan tambahan sebelum masuk pasar. Pengelompokan ini mempermudah tim gudang mengatur ruang penyimpanan dan alur distribusi.
Contohnya, ampas kedelai dari pabrik tahu dan tempe bisa langsung dijual sebagai pakan ternak. Sementara itu, cherry pulp dari pabrik kopi perlu diproses lebih dulu menjadi pupuk organik atau briket agar nilai jualnya lebih tinggi.
3. Tentukan apakah akan dijual, diproses ulang, atau dipakai internal
Manajemen perlu mengambil keputusan berdasarkan analisis biaya dan manfaat yang paling menguntungkan. Dalam beberapa kasus, memakai hasil samping untuk kebutuhan energi internal lebih hemat daripada menjualnya.
Contohnya, pabrik gula dapat memakai ampas tebu sebagai bahan bakar boiler untuk mendukung kebutuhan energi produksi. Di sisi lain, molase dapat dijual ke industri lain untuk diolah menjadi etanol, bahan fermentasi, atau bahan pendukung industri pangan.
4. Catat kuantitas dan nilai produk sampingan secara rutin
Tanpa pencatatan yang disiplin, perusahaan sulit mengetahui total potensi pendapatan yang hilang setiap bulan. Gunakan formulir digital agar data yang terkumpul konsisten dan mudah dianalisis.
Contohnya, pabrik pengolahan kelapa dapat mencatat jumlah sabut dan batok kelapa yang dihasilkan setiap hari. Dari pencatatan ini, perusahaan bisa menghitung berapa banyak material yang dijual sebagai cocopeat, cocofiber, arang, atau briket.
5. Pantau biaya penanganan dan hasil penjualannya
Pastikan biaya pengelolaan hasil samping tidak melebihi proyeksi nilai jualnya di pasar. Evaluasi rutin membantu perusahaan menjaga margin produk sampingan tetap positif.
Contohnya, jika pabrik kopi mengolah cherry pulp menjadi briket, perusahaan perlu menghitung biaya pengeringan, tenaga kerja, penyimpanan, dan distribusi. Jika biaya tersebut lebih tinggi dari harga jual, perusahaan bisa mempertimbangkan opsi lain seperti menjual cherry pulp sebagai bahan kompos.
6. Evaluasi peluang kolaborasi dengan industri lain
Banyak perusahaan berhasil membangun kemitraan dengan pabrik pengolah limbah atau pengguna material sekunder. Kolaborasi ini dapat membuka kontrak jangka panjang yang menguntungkan bagi kedua pihak.
Contohnya, pabrik kelapa dapat bekerja sama dengan produsen arang, media tanam, atau eksportir cocofiber untuk menyerap batok dan sabut kelapa secara rutin. Pabrik gula juga dapat bermitra dengan industri bioetanol atau pakan ternak untuk memanfaatkan molase dan hasil samping lainnya.
Kapan Produk Sampingan Perlu Dikelola dengan Sistem?
Produk sampingan perlu dikelola dengan sistem saat volume, nilai ekonomi, dan kompleksitas pencatatannya mulai meningkat. Di bawah ini merupakan beberapa tanda-tanda bahwa perusahaan perlu mengelola produk sampingan menggunakan sistem.
- Volume hasil samping makin besar: Material mulai menumpuk dan mengganggu area kerja pabrik, sehingga perusahaan perlu mencatat alur masuk, keluar, dan stok hasil samping secara lebih rapi.
- Lini produksi semakin banyak: Setiap departemen menghasilkan sisa produksi dengan jenis dan jumlah berbeda, sehingga data perlu disatukan dalam satu sistem terpusat.
- Pencatatan masih manual: Data yang tersebar di kertas, Excel, atau laporan shift membuat manajemen sulit menelusuri asal, volume, dan nilai produk sampingan.
- Nilai ekonomi perlu dihitung akurat: Margin hasil samping tidak bisa hanya berupa perkiraan karena biaya penyimpanan, proses tambahan, dan distribusi harus ikut dihitung.
- Perusahaan mengejar efisiensi dan sustainability: Laporan limbah, pemakaian material, dan pemanfaatan ulang membutuhkan data yang konsisten agar mudah diaudit.
- Manajemen membutuhkan sistem manufaktur terintegrasi: Jika produk sampingan sudah berdampak pada stok, biaya, dan penjualan, perusahaan dapat mempertimbangkan sistem manufaktur yang terintegrasi.
Software Advanced Manufacturing dari Total ERP
Advanced manufacturing membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan produksi, stok, biaya, quality control, dan laporan operasional dalam satu alur kerja. Dengan software yang tepat, perusahaan dapat mengurangi pencatatan manual dan memantau aktivitas pabrik secara lebih akurat.
Total ERP menjadi salah satu pilihan software advanced manufacturing untuk perusahaan yang ingin mengelola proses produksi secara terpusat. Sistem ini dapat membantu pabrik mencatat hasil produksi, memantau stok bahan baku, mengontrol biaya, dan melihat performa operasional melalui data yang lebih mudah dianalisis.
| Software | Fitur Manufaktur Utama | Kelebihan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Total ERP | Production planning, inventory control, costing, laporan produksi, dan integrasi proses pabrik. | Mendukung kebutuhan manufaktur lokal dengan sistem yang dapat disesuaikan berdasarkan alur kerja pabrik. | Perusahaan menengah hingga besar yang membutuhkan sistem manufaktur terintegrasi. |
| HashMicro | Production plan, scheduling, master data, smart reporting, dan quality control. | Memiliki modul manufaktur yang terhubung dengan stok, procurement, dan laporan operasional. | Perusahaan yang membutuhkan otomasi produksi dan visibilitas operasional lintas departemen. |
| SAP | Manufacturing execution, supply chain planning, asset management, analytics, dan integrasi enterprise. | Kuat untuk perusahaan berskala global dengan proses kompleks dan kebutuhan integrasi besar. | Enterprise dengan banyak pabrik, entitas, dan proses bisnis lintas negara. |
| Oracle Manufacturing Cloud | Work orders, resource management, shop floor execution, mixed-mode manufacturing, dan embedded analytics. | Mendukung berbagai mode produksi dengan kontrol eksekusi lantai produksi yang kuat. | Perusahaan besar yang membutuhkan cloud manufacturing dengan integrasi supply chain. |
| Odoo Manufacturing | MRP, work orders, planning, reporting, quality alerts, maintenance, dan shop floor control. | Fleksibel untuk bisnis yang ingin menggabungkan modul manufaktur dengan aplikasi bisnis lain. | Bisnis kecil hingga menengah yang membutuhkan sistem modular dan mudah dikembangkan. |
Dari beberapa pilihan di atas, perusahaan perlu menyesuaikan software dengan skala produksi, jumlah lini pabrik, kebutuhan integrasi, dan kesiapan tim internal. Untuk pabrik yang ingin menghubungkan proses manufaktur dengan stok, biaya, dan laporan operasional, Total ERP dapat menjadi opsi yang relevan untuk dievaluasi lebih lanjut.
Berapa Estimasi Biaya Pengelolaan Produk Sampingan dengan Sistem?
Biaya pengelolaan produk sampingan bergantung pada jumlah lini produksi, kebutuhan integrasi, volume data, dan kompleksitas pencatatan biaya. Secara umum, perusahaan perlu menghitung biaya software, implementasi, pelatihan, migrasi data, serta integrasi dengan modul produksi, gudang, dan akuntansi.
Sebagai gambaran awal, beberapa referensi ERP menyarankan perusahaan menyiapkan anggaran implementasi berdasarkan skala operasional. NetSuite mencatat bahwa salah satu rule of thumb implementasi ERP adalah menyiapkan sekitar 1% dari operating budget perusahaan.
| Skala Kebutuhan | Estimasi Investasi Awal | Kebutuhan Umum |
|---|---|---|
| Dasar | Rp75 juta sampai Rp200 juta atau sekitar US$5.000 sampai US$13.000. | Pencatatan hasil samping sederhana, dashboard stok, dan laporan penjualan dasar. |
| Menengah | Rp200 juta sampai Rp750 juta atau sekitar US$13.000 sampai US$50.000. | Integrasi produksi, gudang, akuntansi, approval, dan laporan margin produk sampingan. |
| Enterprise | Di atas Rp750 juta atau lebih dari US$50.000. | Multi-pabrik, multi-gudang, integrasi mesin, kontrol biaya lanjutan, dan laporan sustainability. |
Angka di atas bersifat estimasi untuk perencanaan awal, bukan harga final. Perusahaan tetap perlu menghitung kebutuhan modul, jumlah pengguna, kustomisasi, integrasi, dan dukungan implementasi sebelum menentukan anggaran.
Studi Kasus Pemanfaatan Produk Sampingan dalam Industri
Mini case study berikut menggunakan contoh ilustratif Parahyangan Group, sebuah perusahaan manufaktur makanan dengan beberapa lini produksi. Contoh ini menunjukkan bagaimana pencatatan produk sampingan dapat membantu perusahaan menilai peluang efisiensi secara lebih konkret.
Mini Case Study: Parahyangan Group
- Problem: Parahyangan Group menghasilkan sekitar 12 ton sisa bahan organik per bulan dari proses produksi makanan. Sebelum dikelola, material ini hanya dicatat sebagai limbah dan menimbulkan biaya pembuangan sekitar Rp18 juta per bulan.
- Solusi: Tim produksi mulai memisahkan hasil samping berdasarkan jenis material, mencatat volumenya per shift, dan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengolah sebagian sisa bahan menjadi pakan ternak dan kompos.
- Hasil: Dalam 6 bulan, biaya pembuangan turun sekitar 35%, sedangkan penjualan hasil samping menghasilkan pendapatan tambahan rata-rata Rp22 juta per bulan. Data tersebut juga membantu finance menghitung margin hasil samping dengan lebih akurat.
Catatan: Angka dalam studi kasus ini bersifat ilustratif.
Kesimpulan
Produk sampingan dapat menjadi indikator penting produksi untuk menilai seberapa efisien proses produksi berjalan. Jika volumenya terlalu besar, perusahaan perlu mengevaluasi kualitas bahan baku, pengaturan mesin, atau metode kerja di lantai produksi.
Pengelolaan produk sampingan juga membantu perusahaan melihat peluang ekonomi dari material yang sebelumnya kurang diperhatikan. Dari data volume, biaya, dan nilai jualnya, perusahaan dapat menentukan apakah hasil samping lebih layak dijual langsung, diolah kembali, atau digunakan untuk kebutuhan internal.
Untuk mengelola data produksi, stok hasil samping, dan biaya operasional dengan lebih rapi, perusahaan dapat menggunakan sistem yang mengintegrasikan proses manufaktur. Dengan alur kerja yang terpusat, manajemen lebih mudah memantau efisiensi produksi dan mengambil keputusan berbasis data.
FAQ tentang Produk Sampingan












