Last mile delivery adalah tahap terakhir pengiriman barang dari gudang atau hub lokal ke pelanggan akhir. Tahap ini paling sulit dikendalikan karena dipengaruhi rute, kondisi jalan, alamat, waktu pengantaran, dan keberhasilan serah terima.
Pengelolaan last mile delivery tidak cukup hanya dengan mengirim barang sampai tujuan. Perusahaan juga perlu mengetahui apakah pengiriman tiba tepat waktu, berhasil pada percobaan pertama, dan menghasilkan biaya yang sebanding dengan nilai layanan.
Artikel ini membahas pengertian, proses, tantangan di Indonesia, KPI penting, serta cara menggunakan data pengiriman untuk mengambil keputusan operasional.
Key Takeaways
Last mile delivery adalah tahap terakhir pengiriman barang dari gudang, pusat distribusi, atau hub lokal ke pelanggan akhir.
Tahap ini memiliki biaya per kiriman tertinggi karena satu kendaraan melayani lebih sedikit pelanggan dalam satu perjalanan.
Kinerjanya perlu diukur melalui on-time delivery rate, first-attempt delivery rate, dan cost per successful delivery.
- Apa Itu Last Mile Delivery?
- Perbedaan First Mile, Middle Mile, dan Last Mile
- Bagaimana Proses Last Mile Delivery Berjalan?
- Tantangan Last Mile Delivery di Indonesia
- KPI Last Mile Delivery yang Perlu Dipantau
- Cara Menggunakan KPI untuk Mengambil Keputusan
- Peran Sistem dalam Meningkatkan Visibilitas Pengiriman
- Tingkatkan Kendali Distribusi dengan Sistem Terintegrasi
- Kesimpulan
Pantau Status Delivery Order Dan Retur Barang Secara Real Time Dengan Total ERP
Apa Itu Last Mile Delivery?
Last mile delivery adalah proses pengantaran barang dari lokasi distribusi terakhir ke pelanggan yang menerima barang. Lokasi tersebut dapat berupa gudang, distribution center, toko, atau hub lokal.
Istilah “last mile” tidak selalu berarti jarak yang benar-benar pendek. Fokus istilah ini adalah tahap terakhir sebelum barang sampai ke penerima, bukan jumlah kilometer yang ditempuh. Dalam alur distribusi logistik secara keseluruhan, last mile berada paling akhir setelah first mile dan middle mile.
Perbedaan First Mile, Middle Mile, dan Last Mile
Dalam rantai distribusi, setiap tahap pengiriman memiliki titik awal, titik akhir, dan pihak yang bertanggung jawab yang berbeda. Memahami perbedaan ketiganya membantu perusahaan menentukan di mana masalah biaya atau keterlambatan paling sering muncul.
Tabel berikut merangkum perbedaan ketiga tahap pengiriman berdasarkan cakupan, pelaku, dan karakteristik biayanya:
| Tahap | Dari | Ke | Pelaku Umum | Karakteristik Biaya |
|---|---|---|---|---|
First mile |
Pemasok atau produsen | Pusat distribusi atau gudang utama | Vendor logistik, armada internal | Volume besar, biaya per unit rendah |
Middle mile |
Gudang utama atau DC regional | Hub lokal atau DC area | Kurir antarkota, 3PL | Volume menengah, jarak jauh |
Last mile |
Hub lokal atau DC area | Pelanggan akhir | Kurir internal, mitra lokal, 3PL | Volume kecil per kendaraan, biaya per unit tertinggi |
Bagaimana Proses Last Mile Delivery Berjalan?
Proses last mile delivery dimulai ketika pesanan sudah siap dikirim dari lokasi distribusi terakhir. Setiap tahap menghasilkan informasi yang membantu tim menemukan penyebab keterlambatan atau kegagalan pengiriman.
Berikut urutan tahapan yang biasanya terjadi dalam proses pengiriman last mile:
1. Pesanan Dikonfirmasi
Pesanan diperiksa berdasarkan alamat, jumlah barang, jadwal pengiriman, dan metode pembayaran. Validasi awal membantu mengurangi kesalahan sebelum barang keluar dari gudang.
2. Barang Dipicking dan Dipacking
Barang diambil dari lokasi penyimpanan lalu dikemas sesuai jenis dan jumlah pesanan. Kesalahan pada tahap ini dapat menyebabkan pengiriman ulang, retur, dan biaya tambahan.
3. Rute dan Dispatch Disiapkan
Tim menentukan kendaraan, kurir, urutan pemberhentian, kapasitas muatan, dan waktu keberangkatan. Perencanaan ini mempertimbangkan lokasi pelanggan dan batas waktu penerimaan.
4. Barang Diantarkan
Kurir mengantarkan barang ke alamat pelanggan sesuai rute yang telah ditentukan. Perubahan status pengiriman perlu dicatat agar tim internal dan pelanggan memiliki informasi yang sama.
5. Penerimaan atau Delivery Exception Dicatat
Untuk panduan lengkap tentang prosedur dan proof of delivery, termasuk penanganan barang gagal diterima, dapat dilihat pada artikel prosedur pengiriman barang. Pengiriman ditutup ketika barang diterima dan bukti serah terima dicatat, atau saat delivery exception dilaporkan beserta alasannya.
Tantangan Last Mile Delivery di Indonesia
Last mile delivery di Indonesia menghadapi kondisi operasional yang beragam, mulai dari area perkotaan yang padat hingga wilayah kepulauan dengan waktu tempuh yang sulit diprediksi. Tantangan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah kurir.
Tabel berikut merangkum tantangan utama beserta data yang perlu dipantau untuk setiap kondisi:
| Tantangan | Dampak Operasional | Data yang Perlu Dipantau |
|---|---|---|
| Kemacetan dan perubahan waktu tempuh | Pengiriman terlambat dan jadwal sulit dipenuhi | Waktu tempuh dan on-time delivery |
| Alamat tidak baku atau sulit ditemukan | Kurir membutuhkan waktu lebih lama atau harus mengulang kunjungan | Failed attempt dan waktu pencarian alamat |
| Wilayah kepulauan dan kepadatan alamat rendah | Biaya per kiriman meningkat | Cost per successful delivery |
| Pelanggan tidak tersedia atau COD gagal | Terjadi pengiriman ulang, retur, dan kapasitas terbuang | First-attempt delivery rate |
KPI Last Mile Delivery yang Perlu Dipantau
KPI last mile delivery membantu perusahaan menilai apakah pengiriman berjalan sesuai target. Sebagai contoh penerapannya, lihat cara efisiensi distribusi FMCG dievaluasi melalui ketepatan waktu dan biaya pengiriman.
Tiga KPI utama berikut mencakup ketepatan waktu, keberhasilan percobaan pertama, dan biaya aktual setiap kiriman yang berhasil.
1. On-Time Delivery Rate
Angka yang rendah dapat menunjukkan masalah pada kapasitas, cut-off, rute, atau proses dispatch. Pastikan denominator yang digunakan konsisten, yakni total pengiriman yang selesai bukan total kiriman yang dicoba.
2. First-Attempt Delivery Rate
Angka yang rendah biasanya perlu ditelusuri melalui kualitas alamat, konfirmasi pelanggan, dan kesiapan penerima. Jangan menyamakan kiriman yang dicoba dengan kiriman berhasil karena hasil KPI akan bias.
3. Cost per Successful Delivery
Metrik ini membantu perusahaan melihat biaya nyata dari setiap pengiriman yang berhasil, bukan hanya biaya perjalanan kendaraan. Ketiga KPI di atas sebaiknya dilihat bersama agar pola masalah lebih mudah teridentifikasi.
Cara Menggunakan KPI untuk Mengambil Keputusan
KPI tidak hanya berfungsi sebagai angka laporan. Nilai KPI seharusnya membantu perusahaan menemukan penyebab masalah dan menentukan tindakan yang dapat diuji pada periode berikutnya.
Tabel berikut menunjukkan cara membaca kombinasi hasil KPI dan menentukan tindakan lanjutannya:
| Sinyal KPI | Hipotesis Awal | Tindakan Lanjutan |
|---|---|---|
| OTD rendah, first-attempt tinggi | Masalah mungkin berada pada kapasitas, cut-off, atau rute | Audit waktu dispatch, urutan rute, dan beban kendaraan |
| OTD tinggi, first-attempt rendah | Janji waktu tercapai, tetapi alamat atau penerima bermasalah | Perkuat validasi alamat dan konfirmasi sebelum keberangkatan |
| Cost per delivery tinggi | Rute terlalu tersebar atau pengiriman ulang terlalu banyak | Kelompokkan area dan evaluasi penyebab retur |
Peran Sistem dalam Meningkatkan Visibilitas Pengiriman
Visibilitas pengiriman berarti perusahaan dapat melihat status pesanan, hasil pengantaran, dan kendala yang perlu ditangani. Informasi ini menjadi bagian dari visibilitas supply chain ketika terhubung dengan data pesanan dan stok, sehingga tim dapat menelusuri masalah tanpa mencocokkan catatan secara manual.
1. Status Pesanan dan Pengiriman
Sistem perlu menunjukkan apakah pesanan masih diproses, sudah dikirim, berhasil diterima, atau mengalami kendala. Status yang konsisten membantu setiap tim memahami tindakan berikutnya tanpa menunggu konfirmasi manual.
2. Data Pengiriman untuk Evaluasi
Data status, waktu, biaya, dan hasil pengiriman dapat digunakan untuk menghitung KPI secara berkala. Hasil tersebut membantu manajemen menentukan area yang perlu diperbaiki lebih dahulu.
Tingkatkan Kendali Distribusi dengan Sistem Terintegrasi

Last mile delivery tidak hanya berdampak pada ketepatan waktu pengantaran, tetapi juga langsung memengaruhi akurasi stok. Setiap kiriman yang gagal, dikembalikan, atau dicatat secara tidak konsisten dapat menyebabkan perbedaan antara stok sistem dan kondisi fisik di gudang.
Berikut kemampuan sistem yang mendukung pengendalian inventori dalam proses pengiriman last mile:
- Status Delivery Order dapat dipantau secara real-time tanpa konfirmasi manual ke kurir
- Retur barang dari pengiriman gagal langsung tercatat kembali ke stok gudang
- Bukti serah terima terhubung ke order dan memperbarui catatan inventori secara otomatis
- Data pengiriman dan retur tersinkron ke laporan keuangan untuk rekonsiliasi akhir periode
Software inventory Total ERP membantu menghubungkan status Delivery Order, pencatatan retur, dan pembaruan stok gudang dalam satu sistem sehingga tim tidak perlu merekonsiliasi data dari catatan yang terpisah.
Kesimpulan
Last mile delivery adalah tahap terakhir ketika barang dikirim dari hub atau pusat distribusi menuju pelanggan akhir. Tahap ini dipengaruhi oleh kualitas alamat, kondisi rute, kesiapan penerima, kapasitas kendaraan, dan ketepatan pencatatan status.
Perusahaan dapat memulai pengendalian dengan memantau tiga KPI utama: on-time delivery rate, first-attempt delivery rate, dan cost per successful delivery. Hasil KPI perlu dihubungkan dengan keputusan operasional agar perbaikan dapat dilakukan berdasarkan data yang konkret, bukan asumsi.
FAQ tentang Last Mile Delivery












