IT Inventory adalah sebuah sistem pengelolaan aset dan persediaan perusahaan yang berbasis teknologi informasi, mencakup pencatatan, pemantauan, dan pelaporan detail seluruh barang, baik fisik maupun non-fisik. Peran utamanya sangat krusial, terutama untuk memastikan akurasi data dan efisiensi operasional.
Sistem ini berfungsi vital dalam mendukung kelancaran operasional perusahaan dan logistik, khususnya kemudahan dalam beroperasi di kawasan berikat. Sebagai contoh, sebuah perusahaan di kawasan berikat menggunakan IT Inventory dan berhasil menekan kesalahan pencatatan barang impor hingga 95% dibandingkan metode manual.
Setelah memahami definisi dan peranan pentingnya, mari kita telaah lebih dalam mengenai definisi, kategori, manfaat, dan cara implementasi sistem IT Inventory kawasan berikat untuk optimalisasi bisnis Anda.
Key Takeaways
IT Inventory adalah sistem terkomputerisasi untuk mencatat, memantau, dan melaporkan seluruh aset dan persediaan, memastikan akurasi data secara real-time.
Sistem IT memastikan kepatuhan ketat terhadap regulasi pabean (Bea Cukai) di Kawasan Berikat, meminimalkan risiko sanksi, dan mempercepat arus barang impor/ekspor.
Implementasi sistem ini mampu menekan biaya operasional karena mengurangi human error dan mempercepat proses audit serta rekonsiliasi data inventaris.
Apa itu IT Inventory Kawasan Berikat?
IT Inventory adalah sebuah sistem informasi yang menjadi keharusan bagi perusahaan-perusahaan di dalam kawasan berikat untuk mengelola barang-barang. Setiap perusahaan diharuskan memiliki IT Inventory yang dapat diakses secara berkala oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Agar memungkinkan DJBC untuk membaca dan mengunduh dokumen-dokumen yang diperlukan.
Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131/PMK/04/2018 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor PER-19/BC/2018 tentang Tata Laksana Kawasan Berikat. Aturan tersebut mewajibkan perusahaan-perusahaan di kawasan berikat untuk memiliki sistem informasi yang dapat menghasilkan laporan mengenai masuk dan keluarnya barang.
Apa saja Ketentuan IT Inventory Kawasan Berikat?
Menurut ketentuan Peraturan Dirjen Bea dan Cukai Nomor PER-19/BC/2018, persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar memperoleh fasilitas berikat adalah sebagai berikut:
- Sudah terdaftar sebagai pengusaha kena pajak (PKP) dan telah melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) sesuai dengan kewajiban tahun pajak terakhir.
- Memperoleh rekomendasi dari penyelenggara kawasan berikat setelah mengajukan permohonan izin sebagai pengusaha di kawasan berikat.
- Memiliki teknologi informasi untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran barang, termasuk IT Inventory dan closed circuit television (CCTV) yang handal.
- Memiliki sistem pengendalian internal (SPI) yang efektif dan baik.
- Melakukan analisis dampak ekonomi dari pemberian izin kawasan berikat.
Manfaat Implementasi Sistem IT Inventory Kawasan Berikat

Implementasi sistem IT inventory di kawasan berikat memberikan sejumlah manfaat signifikan baik bagi pelaku usaha maupun pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Manfaat bagi pelaku usaha:
- Mengoptimalkan proses logistik dengan pengelolaan dan pelacakan stok barang.
- Memberikan visibilitas yang lebih tinggi terhadap barang-barang.
- Membantu memastikan bahwa pelaku usaha mematuhi peraturan dan persyaratan.
- Membantu mengidentifikasi tren permintaan dan meresponsnya dengan lebih cepat.
- Mengoptimalkan persediaan barang dan meminimalkan risiko kekurangan atau kelebihan stok.
Manfaat bagi pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC):
- Memungkinkan pengawasan dan pemantauan terhadap aktivitas kawasan berikat.
- Memudahkan verifikasi ketaatan pelaku usaha terhadap aturan dan peraturan yang berlaku.
- Memberikan data yang lebih akurat dan transparan dalam melakukan evaluasi.
- Memberikan layanan yang lebih baik dan mendukung perkembangan secara keseluruhan.
Apa saja Kategori Implementasi Inventory Kawasan Berikat?
Berikut adalah beberapa tipe IT Inventory kawasan berikat yang memiliki peran krusial dalam mengelola dan memantau aset-aset teknologi informasi yang ada.
1. Kategori A (integrated system)
Dalam kategori ini, perusahaan di kawasan berikat mengadopsi pendekatan yang menggabungkan seluruh proses pencatatan pembukuan ke dalam satu aplikasi terpadu. Sistem tersebut terancang agar setiap aspek dari pencatatan keuangan dan pengelolaan IT inventory dapat saling terhubung dan berintegrasi secara sinergis.
Melalui aplikasi, data dan informasi terkait pengelolaan keuangan dan aset teknologi informasi dapat diakses dengan mudah dan real-time. Ketika ada perubahan atau transaksi baru, informasi akan secara otomatis terupdate di seluruh bagian sistem, sehingga mengurangi risiko kesalahan manusia dan meningkatkan akurasi data.
2. Kategori B ( Mirroring database)
Di lingkungan kawasan berikat, dua aplikasi utama berperan penting: aplikasi pencatatan pembukuan sebagai pusat transaksi keuangan dan operasional, serta IT Inventory.
IT Inventory berfungsi ganda sebagai sistem pencatatan inventaris (masuk/keluar barang, stok aset IT) dan sebagai interface untuk manipulasi data. Integrasi kedua aplikasi ini sangat penting agar data transaksi barang yang masuk atau keluar otomatis tersinkronisasi, menjamin konsistensi dan akurasi data.
3. Kategori C (Stand Alone System)
Di kategori ini, perusahaan kawasan berikat menggunakan sistem pencatatan pembukuan dan IT Inventory secara independen dan tidak terintegrasi. Karena tidak ada tautan data otomatis, pemindahan informasi harus dilakukan manual, yang meningkatkan risiko kesalahan manusia dan menyebabkan ketidakselarasan antara data pembukuan dan catatan inventaris.
4. Kategori D (Manual System)
Dalam kategori ini, perusahaan kawasan berikat masih mengandalkan pencatatan masuk dan keluar barang secara manual menggunakan buku catatan atau lembar kerja fisik. DJBC memberikan perhatian, pengawasan, dan bimbingan khusus pada perusahaan ini.
Tujuannya adalah mendorong transisi ke sistem terkomputerisasi atau IT Inventory untuk meningkatkan kualitas data, meminimalkan kesalahan, dan secara keseluruhan meningkatkan efisiensi operasional di kawasan berikat.
Fungsi utama IT inventory kawasan berikat

IT Inventory memiliki berbagai fungsi penting dalam pengelolaan stok barang di perusahaan, termasuk:
1. Mendapatkan kontrol atas stok barang
alam IT Inventory, seluruh transaksi masuk dan keluar barang dicatat dengan akurat dan teratur, perusahaan dapat mengoptimalkan pengelolaan menggunakan aplikasi stok barang sehingga dapat mengetahui jumlah stok yang tersedia, mengidentifikasi pola permintaan dan konsumsi, dan merencanakan kebutuhan stok dengan lebih akurat.
Informasi real-time yang tersedia dalam sistem ini memberikan pandangan yang tepat mengenai tingkat persediaan barang di setiap saat.
2. Membantu memelihara stok produksi
Dalam lingkungan perusahaan kawasan berikat, perencanaan produksi yang tepat menjadi sangat penting untuk menjawab kebutuhan pasar dengan efisien. Dengan adanya sistem terkomputerisasi dalam IT Inventory dalam inventory management software, perusahaan dapat melakukan perencanaan produksi yang lebih baik dan akurat.
Informasi mengenai tingkat persediaan barang yang tersedia dalam sistem membantu perusahaan untuk mengetahui kapan dan berapa banyak produk yang perlu diproduksi atau dipesan kembali.
3. Memudahkan pengurusan stok barang di pasaran
IT Inventory memfasilitasi pengurusan stok bagi perusahaan kawasan berikat dengan sistem terkomputerisasi untuk memantau permintaan dan penjualan pasar secara real-time.
Akses instan terhadap pola penjualan dan data pelanggan memungkinkan perusahaan merespons fluktuasi pasar dengan cepat. Hal ini membuat perusahaan dapat menyesuaikan stok secara akurat untuk menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan.
Masalah Tanpa IT di Kawasan Berikat
Sistem Kawasan Berikat menuntut akuntabilitas dan kepatuhan yang sangat tinggi terhadap regulasi pabean. Tanpa dukungan IT Inventory, perusahaan akan menghadapi sejumlah masalah serius yang berpotensi menyebabkan kerugian finansial, sanksi, hingga pembekuan izin operasional.
1. Pelanggaran kepatuhan pabean (Bea Cukai)
Proses pencatatan stok dan pergerakan barang masih dilakukan secara manual menggunakan spreadsheet atau buku, sehingga rentan terjadi kesalahan input dan selisih data. Hal ini menyebabkan ketidaksesuaian antara data fisik dan data pembukuan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap ketentuan Kawasan Berikat.
2. Sulitnya proses audit dan rekonsiliasi
Saat Bea Cukai melakukan audit, perusahaan tanpa IT Inventory akan kesulitan menyajikan data yang akurat dan real-time mengenai bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Proses rekonsiliasi data antara laporan perusahaan dengan sistem Bea Cukai (Ceisa) menjadi sangat memakan waktu, kompleks, dan rawan temuan.
3. Risiko kehilangan dan penemuan barang (Discrepancy)
Kurangnya sistem pemantauan yang terintegrasi (seperti barcode atau RFID) menyebabkan perusahaan tidak dapat melacak lokasi dan status setiap item secara cepat. Ketidakmampuan mengontrol inventaris secara ketat meningkatkan risiko kehilangan, stock-out tak terduga, atau penemuan selisih stok yang berujung pada sanksi denda.
4. Pengambilan keputusan operasional yang lambat
Manajemen tidak memiliki visibilitas yang jelas dan cepat mengenai tingkat stok, kebutuhan bahan baku, dan performa supply chain secara keseluruhan. Keterlambatan dalam memperoleh laporan stok yang akurat menghambat proses perencanaan produksi dan pembelian, sehingga menurunkan efisiensi.
Praktiskan Pengelolaan Inventaris dengan Total Inventory System

Berbagai risiko besar mengintai operasional di kawasan berikat, mulai dari selisih stok, kesulitan audit, hingga ancaman sanksi pabean. Semua kekhawatiran tersebut seringkali bersumber dari kurangnya sistem terintegrasi yang mampu memberikan akuntabilitas real-time. Oleh karena itu, perusahaan manufaktur dan logistik memerlukan software untuk mengamankan kepatuhan dan efisiensi.
Total Inventory Software dirancang khusus untuk mengatasi kompleksitas operasional secara end-to-end dengan memastikan setiap proses pencatatan dan pelaporan telah disesuaikan dengan regulasi yang berlaku. Integrasi fitur yang terdapat di dalamnya memastikan semua pergerakan barang dicatat sesuai format yang disyaratkan dan siap untuk proses audit atau rekonsiliasi data.
Software Total memberikan visibilitas dan kontrol penuh melalui fitur-fitur ini:
- Manajemen Multi-Gudang (Multi-Lokasi): Mengelola dan melacak persediaan yang tersebar di berbagai gudang atau lokasi penyimpanan secara terpusat.
- Integrasi Barcode: Mendukung penggunaan barcode untuk identifikasi item, mempercepat proses stock opname dan transfer barang.
- Real-Time Stock Monitoring: Memungkinkan pemantauan status persediaan secara langsung (real-time) untuk mencegah kekurangan atau kelebihan stok.
- Laporan Inventaris Lengkap: Menyajikan laporan detail mengenai pergerakan, nilai, dan tingkat stok untuk analisis dan pengambilan keputusan yang akurat.
- Pelacakan Serial Number / Lot: Melacak setiap item secara unik menggunakan nomor seri atau nomor batch untuk kontrol kualitas dan traceability yang lebih baik.
Jangan biarkan risiko audit dan inefisiensi manual terus menghambat potensi perusahaan di Kawasan Berikat. Saatnya beralih ke solusi yang terbukti menjamin akurasi dan kepatuhan.
Kesimpulan
IT Inventory merupakan sistem informasi yang penting dalam pengelolaan stok barang di perusahaan kawasan berikat.
Dengan IT Inventory, perusahaan dapat memperoleh kontrol yang lebih baik atas stok barang. Serta membantu memelihara stok produksi dengan lebih efisien, dan memudahkan pengurusan stok barang di pasar.
Dengan mengimplementasikan Software inventory Total, perusahaan kawasan berikat dapat memperoleh manfaat besar dalam pengelolaan stok barang.
Terlebih lagi, sistem ini memberikan kontrol yang lebih baik atas stok. Membantu memelihara persediaan produksi, dan memudahkan pengurusan barang di pasaran. Coba demo gratis sekarang!
Pertanyaan tentang IT Inventory
IT Inventory kawasan berikat adalah sistem berbasis teknologi untuk mengelola seluruh aset dan persediaan, wajib digunakan perusahaan di Kawasan Berikat untuk menjamin akurasi data dan kepatuhan pabean.
Risiko utama adalah discrepancy data stok yang berujung pada pelanggaran regulasi Bea Cukai, kesulitan audit, dan potensi denda atau pembekuan izin usaha.
Ya, integrasi sangat penting. Integrasi menjamin konsistensi data antara catatan inventaris dan transaksi keuangan, mempermudah rekonsiliasi dan pelaporan yang akurat.













