Proses manufaktur mencakup rangkaian aktivitas terstruktur yang mengubah bahan mentah menjadi produk jadi melalui tahap perencanaan, pengolahan, perakitan, hingga pengendalian kualitas.
Menurut United Nations SDG Indicators Report 2024, sektor manufaktur menyumbang sekitar 16,7% dari total aktivitas ekonomi global berdasarkan data periode 2015–2023. Angka ini menunjukkan peran signifikan manufaktur dalam menopang output industri dunia, meskipun pertumbuhan sektor ini menghadapi tekanan ekonomi global hingga 2024.
Setiap tahapan dalam proses manufaktur menentukan efisiensi produksi, konsistensi mutu, dan daya saing produk di pasar. Perusahaan yang mengelola proses manufaktur secara efisien dapat meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan menciptakan nilai tambah untuk stabilitas produksi.
Key Takeaways
Proses manufaktur adalah rangkaian aktivitas terstruktur yang mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai jual serta menentukan efisiensi biaya dan kualitas output.
Proses manufaktur mencakup perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, pemrosesan, perakitan, pengendalian kualitas, hingga distribusi produk jadi.
Jenis proses manufaktur meliputi make to stock, make to order, make to assemble, dan engineer to order yang disesuaikan dengan permintaan dan karakter produk.
Memahami Konsep Proses Manufaktur
Proses manufaktur adalah metode produksi bahan baku diubah menjadi produk jadi melalui serangkaian tahapan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan barang dalam jumlah besar. Tahap pertama adalah formulasi atau pengumpulan bahan, yang diikuti oleh pencampuran bahan dalam kondisi yang tepat.
Secara keseluruhan, proses ini mengubah bahan baku menjadi barang jadi dengan nilai yang lebih tinggi. Maka dari itu, proses manufaktur memanfaatkan teknologi operasional dan mengikuti kendali kualitas yang ketat.
Apa Perbedaan Proses Manufaktur vs Proses Produksi?
Perbedaan antara proses manufaktur dan produksi terletak pada hasil atau output yang dihasilkannya. Proses manufaktur fokus pada produksi barang jadi dalam jumlah besar dengan menggunakan bahan baku atau komponen dan dengan bantuan mesin atau pengaturan man–machine.
Di sisi lain, proses produksi lebih berfokus pada pengolahan input material atau non-material menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Pengolahan input material meliputi bahan mentah, komponen, dan setengah jadi, sedangkan yang non-material meliputi gagasan, informasi, dan keterampilan.
Apa Pentingnya Proses Manufaktur dalam Industri?
Proses manufaktur memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan industri. Sebagian besar produk yang kita gunakan saat ini adalah hasil dari proses tersebut. Tanpa adanya alur proses manufaktur, industri akan menghadapi kesulitan dalam mengubah bahan mentah menjadi produk yang kompleks dan siap untuk Anda gunakan.
Banyak perusahaan kini mulai beralih dari metode tradisional ke cloud manufacturing untuk mengotomatisasi alur kerja dan memantau seluruh proses manufaktur secara real-time dari mana saja Oleh karena itu, proses ini menjadi landasan penting bagi pertumbuhan dan kemajuan industri di era saat ini.
Apa Jenis-Jenis Produksi dalam Proses Manufaktur?
Proses manufaktur melibatkan serangkaian langkah yang Anda perlukan untuk mengubah bahan mentah menjadi produk jadi. Setiap jenis proses manufaktur memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi efisiensi dan kualitas produksi.
Maka dari itu, pemahaman jenis proses manufaktur sangatlah penting dalam menentukan pendekatan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan produksi.
1. Make to Stock (MTS)
Make-to-Stock (MTS), atau produksi untuk persediaan, merupakan metode memproduksi barang sebelum ada pesanan dari konsumen, berdasarkan data penjualan sebelumnya untuk memprediksi permintaan masa depan dan merencanakan produksi secara sesuai.
- Tujuan: menjaga ketersediaan stok yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan.
- Risiko: terjadi kelebihan stok atau kekurangan stok jika perkiraan permintaan tidak akurat.
2. Make to Order (MTO)
Membuat sesuai pesanan, Make-to-Order atau MTO, adalah metode produksi yang akan dimulai setelah menerima pesanan dari pelanggan yang sudah di konfirmasi. Metode ini relatif membutuhkan modal biaya dan waktu produksi yang lebih banyak.
- Tujuan: memungkinkan konsumen untuk membeli produk dengan spesifikasi yang disesuaikan dengan permintaan mereka.
- Risiko: membutuhkan modal lebih tinggi dan waktu tunggu yang lebih lama karena produk yang dibuat khusus.
- Catatan: umumnya jumlah pesanan dalam MTO lebih kecil daripada jumlah pesanan dalam MTS.
3. Make to Assemble (MTA)
Metode Make-to-Assemble (MTA) merupakan kombinasi antara Make-to-Stock dan Make-to-Order. Jadi, dalam MTA perusahaan telah menyiapkan persyaratan dasar produksi untuk setiap produk, bahkan walaupun belum ada permintaan konsumen. Produksi dimulai sambil menunggu data pesanan yang pasti dari pelanggan mengenai jumlah dan spesifikasi produk.
- Tujuan: mempercepat proses produksi dan penerimaan barang ke konsumen.
- Risiko: barang yang masuk proses produksi tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan pelanggan.
Oleh karena itu, perlu Anda ketahui bahwa jenis proses manufaktur yang baik adalah yang mampu menjaga stabilitas perusahaan, termasuk pembuatan laporan biaya produksi, ketersediaan stok, dan kualitas hasil produk.
Contoh-Contoh Proses Produksi dalam Proses Manufaktur
Dalam dunia industri, terdapat beragam contoh proses manufaktur yang memiliki peran penting dalam menghasilkan produk yang kita gunakan setiap hari. Metode-metode ini melibatkan serangkaian langkah yang terkoordinasi dengan baik untuk mengubah bahan mentah menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Contoh proses tersebut adalah proses molding, forming, machining, joining, dan shearing.
Berikut merupakan penjelasan masing-masing contoh proses manufaktur secara lengkap.
1. Proses molding
Proses pembentukan atau molding merupakan proses transformasi bahan mentah dalam bentuk cair menjadi bahan padat dengan menggunakan cetakan. Pada proses ini terdapat dua jenis tergantung pada jenis cetakan yang digunakan, yaitu cetakan permanen yang dapat digunakan berulang kali (permanent mold casting), dan cetakan sekali pakai (expendable mold casting).
Keterangan:
- Umum diterapkan pada material plastik dan logam
- Cocok untuk produksi massal dengan bentuk yang presisi
- Contoh penerapan: injection molding pada material plastik
2. Proses forming
Proses forming merupakan teknik pembentukan di mana material tidak mengalami perubahan dalam massa atau volume. Umumnya proses ini digunakan pada bahan logam dan plastik.
Keterangan:
- Dilakukan setelah proses molding ketika material sudah mengeras
- Banyak digunakan di industri otomotif, manufaktur, dan pertahanan
- Lebih efisien dari sisi biaya dan penggunaan bahan
3. Proses machining
Proses machining adalah metode manufaktur subtraktif yang membentuk produk dengan menghilangkan bagian material yang tidak dibutuhkan dari bahan kerja.
Keterangan:
- Menghilangkan material untuk mencapai bentuk dan dimensi tertentu
- Menggunakan mesin seperti bubut, frais, bor, dan gergaji
- Cocok untuk presisi tinggi dan toleransi ketat
- Sering digunakan dalam pembuatan prototipe dan komponen khusus
- Mendukung desain produk yang kompleks dan detail
4. Proses joining
Proses joining merupakan tahap di mana beberapa bagian yang terpisah digabungkan untuk membentuk produk yang utuh dan siap untuk didistribusikan. Setiap bagian tersebut telah melalui proses pengolahan sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Keterangan:
- Menggunakan metode seperti pengelasan, perekatan, atau baut
- Memastikan kekuatan dan stabilitas struktur produk
- Umum diterapkan pada produk multi-komponen
- Menjadi tahap akhir sebelum proses finishing atau distribusi
5. Proses shearing
Proses shearing merupakan salah satu proses yang berguna untuk memotong dan menghilangkan material yang tidak diinginkan dari lembaran logam.
Keterangan:
- Dilakukan pada suhu dingin atau suhu kamar
- Tidak memerlukan proses pemanasan material
- Tidak menghasilkan limbah serpihan (chipless process)
- Efisien untuk produksi massal dan persiapan tahap lanjutan
Sistem-sistem yang Terdapat dalam Proses Manufaktur

Dalam proses manufaktur, ada pengimplementasian berbagai sistem manajemen produksi yang berperan penting dalam mengoptimalkan produksi dan efisiensi. Sistem-sistem tersebut telah dirancang untuk meningkatkan kualitas, fleksibilitas, dan produktivitas perusahaan.
Berikut penjelasan detil mengenai 4 sistem dalam proses manufaktur.
1. Sistem flexible manufacturing
Sistem ini menawarkan fleksibilitas dalam produksi dan mengurangi ketergantungan pada jumlah mesin dengan penambahan tenaga manusia. Flexible manufacturing system mampu menghasilkan berbagai jenis produk dalam jumlah yang besar.
Sistem ini mampu menangani tugas-tugas yang mirip dengan sistem intermitten manufacturing, tetapi dalam skala yang lebih besar dan lebih bergantung pada mesin dengan sedikit bantuan tenaga manusia. Namun, implementasi dan penggunaannya perlu investasi modal yang cukup besar.
2. Sistem intermittent manufacturing
Intermittent manufacturing system merupakan salah satu sistem yang akan beroperasi hanya ketika ada permintaan produk dari konsumen. Aliran produksi dalam sistem ini bersifat putus-putus atau tidak berkesinambungan, tetapi tingkat variasi hasil produk relatif tinggi.
Oleh karena itu, kegiatan produksi dalam sistem ini tidak terlalu mengandalkan standar tertentu dan lebih fleksibel dalam prosesnya.
3. Sistem continuous manufacturing
Sistem continuous manufacturing adalah sistem yang mengadopsi alur produksi yang berkelanjutan atau terus-menerus. Prinsip dasar dari sistem ini adalah memproduksi produk dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Bahan dan alat yang berguna dalam produksi juga telah melalui proses standarisasi, sehingga kualitas bahan tersebut telah terjamin sesuai dengan standar. Sistem manufaktur ini sangat cocok untuk perusahaan yang menghadapi permintaan produk yang tinggi, seperti produk kebutuhan sehari-hari.
4. Sistem custom manufacturing
Custom manufacturing system, seperti namanya, adalah sistem manufaktur yang dapat perusahaan sesuaikan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan khususnya. Dengan demikian, hasil produk cenderung memiliki tingkat keunikan yang tinggi, yang sesuai dengan permintaan atau kebutuhan konsumen di pasar.
Hal ini karena sistem manufaktur ini lebih mengandalkan tenaga kerja daripada mesin secara keseluruhan. Namun, perlu Anda ketahui bahwa sistem ini mungkin memakan waktu yang lebih lama.
Contoh Studi Kasus: Proses Manufaktur PT Wings Surya sebagai Pabrik Deterjen

PT Wings Surya adalah produsen produk rumah tangga lokal Indonesia yang memproduksi merek So Klin, Daia, dan Boom di pabrik mereka yang berlokasi di Surabaya.
Perusahaan ini mengadopsi filosofi efisiensi operasional dan standardisasi proses hingga mampu bersaing dengan kompetitor multinasional dan memproduksi lebih dari 500 ton deterjen setiap harinya dengan harga yang kompetitif.
Berikut merupakan dua pendekatan yang digunakan.
1. 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)
Tim menempatkan setiap alat dan bahan pada posisi yang telah ditentukan dengan marking dan label yang jelas. Mereka membersihkan area kerja setiap pergantian shift, sehingga area tetap rapi dan aman. Tim internal melakukan audit 5S setiap bulan untuk memastikan standar terjaga, dengan sistem scoring yang memengaruhi bonus departemen.
2. Kanban Pull System
Supplier bahan baku seperti surfactant, pewangi, dan enzym menggunakan kartu kanban untuk pengiriman material sesuai kebutuhan line produksi. Sistem ini mengurangi overproduction dan memastikan freshness produk yang sampai ke konsumen karena tidak ada stok lama di gudang.
Dampak dari dua pendekatan tersebut.
- Inventory turnover meningkat dari 8x menjadi 15x per tahun
- Space utilization di warehouse lebih optimal, menghemat 25% area
- Product freshness terjaga dengan rata-rata umur stok di gudang hanya 10 hari
- Cost reduction mencapai Rp 15 miliar per tahun dari eliminasi waste
Kesimpulan
Proses manufaktur mengubah bahan mentah menjadi produk jadi melalui langkah produksi yang terstruktur dan efisien. Memahami berbagai jenis proses membantu perusahaan menjaga kualitas dan konsistensi produk.
Penerapan teknologi dan otomasi meningkatkan fleksibilitas dan kecepatan produksi. Dengan perencanaan yang tepat, perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan daya saing.
FAQ tentang Proses Manufaktur
Proses manufaktur adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi yang siap digunakan. Proses ini melibatkan berbagai tahap seperti perencanaan, pengolahan, perakitan, dan pengujian untuk memastikan produk memenuhi standar kualitas.
Proses manufaktur penting karena:
1. Menjamin produk dibuat dengan kualitas yang konsisten.
2. Meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan bahan.
3. Memastikan produk dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya yang efektif.
Empat proses manufaktur utama adalah:
1. Pemotongan & Pembentukan (Machining & Forming), mengubah bentuk bahan baku menjadi bagian yang diinginkan
2. Perakitan (Assembly), menggabungkan beberapa komponen menjadi produk jadi
3. Pengolahan Permukaan (Surface Processing), memberikan finishing atau perlindungan
4. Pengujian & Kontrol Kualitas (Testing & Quality Control), memastikan produk bekerja dengan baik dan memenuhi standar kualitas sebelum dikirim ke konsumen.












